Wawali Bengkulu: Perberat Hukuman Pelaku Perkosaan

Oleh Tgl: May 7, 2014
diskusi musical sister in danger-dehasen-bengkulu

BENGKULU – Wakil Walikota Bengkulu Patriana Sosialinda berharap pemerintah pusat meninjau kembali aturan pidana bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan khususnya bagi pelaku pemerkosaan.

“Negara harus lebih tegas dan adil kepada para korban, hukuman terberat bagi para pelaku pemerkosaan hanya 15 tahun penjara. Ini yang harus ditinjau kembali,” ujar Patriana dalam diskusi musical sister in danger di aula kampus Universitas Dehasen Bengkulu (7/5/2014).

Setiap hari kata Patriana selalu ada berita tentang pemerkosaan, pencabulan dan pelecehan seksual. Kekerasan terhadap perempuan ini terjadi tanpa kompromi, tanpa mengenal usia dan latar belakang bahkan perempuan difabel atau penyandang cacat juga menjadi korban perkosaan.

“Pelakunya bahkan 86,20 persen adalah sangat dekat atau memiliki hubungan dengan korban. Ayah tiri, paman, kakek, sepupu bahkan pacar korban sendiri. Usia korban terbanyak antara 15 hingga 19 tahun atau usia pelajar dan remaja,” lanjut Patriana.

Hukuman berat diharapkan berdampak kepafa efek jera, namun upaya pencegahan juga harus dilakukan dengan melalukan sosialisasi dan menghormati hak asasi pelajar remaja dan mahasiswa.

Aktivis perempuan Bengkulu Niki Karmila mengungkapkan, data yayasan PUPA menyebutkan pada tahun 2013 terjadi 6.243 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. 54,20% korbannya adalah para perempuan difabel atau penyandang cacat.

“Indonesia sedang dalam keadaan darurat kekerasan seksual. Negara harus bertindak dan menjamin kasus kasus ini tidak berkembang dan angka kekerasan harus diturunkan dengan memberi hukuman berat kepada pelaku kekerasan seksual,” tegas Niki. (dyo)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *