Ombudsman: Minim Pengawasan Picu Asusila di Sekolah

Oleh Tgl: May 8, 2014

BENGKULU – Maraknya perlakuan asusila di sekolah, harus menjadi pelajaran penting bagi orangtua dan pihak sekolah. Minimnya pengawasan dan rendahnya pendidikan tentang pengajaran anak agar berani mengadu, patut jadi langkah antisipasi munculnya perilaku asusila di sekolah.

Anggota Ombudsman RI Kartini Istiqamah, menyebutkan kecendrungan saat ini yang membuat sulit terkuaknya aksi pencabulan di sekolah adalah, tidak adanya keberanian korban untuk mengadu. Kejadian di JIS (Jakarta International School) dan di Jember, yang menelan korban hingga ratusan anak, menunjukkan ketidakberanian korban untuk melapor.

“Ini sangat memprihatinkan. Ternyata setelah kami investigasi lebih jauh, anak-anak kita tidak pernah dididik untuk berani mengadu. Ini jadi biang masalah, mereka akhirnya memendam masalah yang dialaminya,” kata Kartika disela sela Seminar Nasional Alternatif Demokrasi dalam Pelayanan Publik dengan Prosedur Komplain di kampus Universitas Bengkulu Kamis 8 Mei 2014.

Penanaman keberanian kepada anak untuk melapor, patut dilakukan semenjak dini. Sehingga, siswa dapat terbiasa melapor atau mengadu ke orang tua atau guru di sekolahnya ketika ada masalah yang mungkin mengancam mereka.

“Selama ini praktiknya, anak-anak kita saat mengadu, justru dimarahi. Baik oleh guru dan orangtuanya. Hal ini membuat siswa trauma dan memilih mendiamkan masalahnya,” kata Kartini.

Berkaitan upaya penyelesaian perkara JIS dan kasus Emon di Jember, diakui Kartini, pihaknya telah menurunkan tim investigasi penanganan.

“Hasil investigasi nanti akan dipublikasikan. Khusus yang JIR, kami rekomendasikan untuk ditutup ke Kemendikbud,” ujarnya.

“Termasuk lembaga penyedia jasa cleaning servicenya. Kasus ini menunjukkan kalau lembaga penyedia jasa, tidak melakukan proses perekrutan yang baik. Jadi mereka juga harus bertanggungjawab,” tambah Kartini. (dyo)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *