Murid SDN 62 Belajar di Teras Warga

Oleh Tgl: May 3, 2014
sdn-62-bengkulu

BENGKULU – Sebanyak 493 murid SD Negeri 62 Kota Bengkulu harus belajar di teras rumah warga karena sudah 2 hari ini sekolahnya disegel menggunakan pagar seng.

Sekolah mereka disegel pihak keluarga Ny Atiyah (alm) yang mengklaim sebagai pemilik lahan. Mereka menuntut janji walikota Bengkulu yang akan membayar ganti rugi lahan yang belum dibayarkan.

Sekolah yang beralamat di Jl Dempo Gang Rukun No 39 Kelurahan Sawah Lebar ini tidak bisa dimasuki karena lahan sekolah yang masih bersengketa. Ratusan murid yang 81 diantaranya duduk di kelas VI harus belajar beralaskan kertas koran, guru yang memberikan materi pelajaran tanpa papan tulis terlihat sesekali menyeka keringat karena harus berdiri dibawah terik matahari.

Kepala SD 62 Tuti Sunarsih mengatakan, pihaknya sangat sedih dengan keadaan ini. Dia tidak sanggup bila kondisi ini terus berlanjut dan menyayangkan pihak keluarga ahli waris pemilik lahan dan perintah Kota Bengkulu yang belum juga ada kata sepakat sehingga mengorbankan para murid.

“Walikota hanya mengutus kepapa bidang di dinas pendidikan. Belum ada solusi. 81 orang murid kelas VI harus bersiap dan fokus menghadapi Ujian Akhir Sekolah yang akan dilaksanakan sebentar lagi,” ujar Tuti (3/5/2014)

Yasri Budaya, salah seorang wali murid terlihat geram dan kesal. “Jangan korbankan murid disini. Apalagi anak saya sudah kelas VI dan mau ujian. Negara harus bertanggung jawab. Mana walikota selesaikan masalah ini,” tegas Yasri dengan nada tinggi.

Ahli waris pemilik lahan, Sadikin (42) putra Ny Atiyah mengaku terpaksa melakukan pemagaran terhadap sekolah ini karena menuntut janji walikota Bengkulu yang akan membayar ganti rugi lahan.

“Tidak ada itikad baik dan penyelesaian oleh Pemda Kota Bengkulu. Hanya janji manis saja yang mereka berikan. Semua dokumen dan surat tanah sudah kami berikan sampai sekarang tidak ada bukti,” ujar Sadikin dengan emosi.

SD Negeri 62 yang berada di Jalan Dempo Gang Rukun Kelurahan Sawah Lebar Kota Bengkulu ini berdiri diatas lahan seluas 5.630 meter persegi. Dengan sertifikat hak milik nomor: 990/IV/1980 yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional tanggal 1 Mei tahun 1980.

Ini merupakan penyegelan kedua sejak tanggal 28 Februari lalu. Saat itu pihak ahli waris hanya menggembok pintu pagar sekolah. Yang dilakukan saat ini malah lebih parah dengan memagari sekeliling sekolah dengan pagar seng.

“Kami bersedia membuka pagar ini jika ada yang menjamin dan kesepakatan yang dibangun harus melibatkan aparat kepolisian, notaris dan walikota,” tegas Sadikin. (dyo)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *