4 Mitos Seputar Jantung

Oleh Tgl: May 13, 2014
anatomi_jantung

Jantung merupakan salah satu organ vital manusia. Ketidakpahaman kita tentang organ ini membuat banyak mitos beredar di masyarakat. Banyak yang memercayainya walau kemudian terbukti salah.

1. Orang Muda Tidak Kena Serangan Jantung

Mitos ini sudah sangat lama beredar di masyarakat. Bahkan mungkin masih banyak yang memercayainya.  Tetapi faktanya, setelah tahun 90-an usia penderita serangan jantung semakin muda. Kini tercatat sebanyak 20 % kasus serangan jantung berada di usia 40 tahun.

Karenanya, disarankan setiap orang melakukan pemeriksaan dan pencegahan dini setelah usia 25 tahun. Tiga faktor yang meningkatkan risiko sakit jantung adalah terlalu banyak mengonsumsi lemak dan gula, kemalasan fisik dan pengaruh radikal bebas.

2. Jantung Tidak Perlu Istirahat

Meski tidak benar-benar “beristirahat”, jantung perlu yang namanya istirahat yaitu saat tidur. Sewaktu tidur, jantung berkontraksi minimal sekira 50-60 denyut per menit. Tugas jantung sangat berat, setiap berdenyut jantung memompa 70 – 80 cc darah.

Dan dalam satu menit jantung akan memompa 500 cc cairan darah dan ada 30.000 cc atau sekira 5000 – 6000 liter darah yang dipompa setiap hari. Maka dari itu, tidur sangat penting bagi kesehatan jantung.

3. Serangan Jantung Menurun

Pada intinya, penyakit jantung tidak menurun secara genetik. Namun, kalau ada keluarga memiliki riwayat serangan jantung yang tinggi maka itu bisa mempertinggi risiko terkena penyakit jantung.

Berhenti merokok, mengenali diri dan lingkungan, menghindari keluarga yang merokok, olahraga teratur, menjaga kolesterol, gula dan berat badan. Plus rutin memeriksakan kondisi kesehatan ke rumah sakit.

4. Dada Kiri Nyeri = Serangan Jantung

Benlum tentu. Jika rasa nyeri menjadi lebih kuat ketika aktif berkegiatan dan gejalanya menurun dengan pemberian obat nitrat di bawah lidah maka itu mengindikasikan sakit jantung. Tetapi bila sakit di dada dapat ditunjuk dengan jelas menggunakan jari—dan ketika ditekan terasa nyeri kemungkinan besar itu adalah sakit otot dada.

Penelitian di Universitas Airlangga pada tahun 1980-an menunjukkan, ketika orang-orang yang merasa masuk angin diperiksa, sesungguhnya 30% di antara mereka terkena serangan jantung koroner. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *