STBHM Disalahgunakan, Walikota Minta Kepemilikan Dicabut

Oleh Tgl: March 13, 2014
Demo Pedagang (2)

Yang demo kemarin mintanya pungli kita turun ke lapangan justru yang demo ada juga ternyata melakukan pungli, dia diberikan STBHM ternyata disewakan dengan pedagang lain

H. Helmi Hasan, SE

BENGKULU – Tindak lanjut dari sidak langsung ke pasar-pasar di kota Bengkulu Walikota Bengkulu H. Helmi Hasan, SE memastikan kepemilikan STBHM akan dicabut untuk mengatasi banyaknya pungli illegal yang dilakukan oknum bukan pedagang.

Hal ini dilakukan Helmi mengingat  pada sidak yang dilakukan walikota usai menggelar sholat zhuhur berhadiah mobil kemarin telah terjadi banyaknya penyalahgunaan STBHM (Surat Tanda Bukti Hak Menempati) oleh oknum bukan pedagang.

Dari sidak ini diketahui bahwa ternyata para pedagang harus membayar hingga Rp 12 juta untuk mendapatkan satu kios di tengah pasar kepada pemilik STBHM yang menyewakan kembali haknya.

“Yang demo kemarin mintanya pungli kita turun ke lapangan justru yang demo ada juga ternyata melakukan pungli, dia diberikan STBHM ternyata disewakan dengan pedagang lain. Justru kita minta apa pandangan asosiasi dan pedagang itu ketika ditemukan ada salah satu oknum sekretaris organisasi itu menyewakan STBHM dengan orang lain,” kata Helmi kepada awak media, Kamis (13/3).

Berangkat dari temuan tersebut walikota memerintah pihak UPTD pasar di Kota Bengkulu untuk mencabut kepemilikan STBHM sejumlah oknum bukan pedagang yang menyewakan kembali kiosnya kepada pedagang lain dengan harga mahal.

“Padahal untuk satu STBHM, biaya sewanya hanya sekitar Rp. 50 ribu per bulan, sehingga biayanya tidak mungkin sampai belasan juta,” katanya.

Seperti dikatakan, Yetno salah satu penyewa kios di pasar Minggu yang mengaku harus mebawar hingga Rp. 10 juta per tahun untuk dapat menempati 1 kiosnya. Lain halnya, dessy, salah satu pedagang di pasar Panorama yang ternyata juga harus membayar hingga Rp. 12 juta pertahun kepada pemilik STBHM. Menurut Walikota, seharusnya seorang pemilik STBHM dilarang untuk menyewakan kembali kiosnya.

“Sekarang kan pedagang tahu. Kalau tidak mau berjualan tidak usah mengambil kios, ini malah menyewakan kembali kiosnya kepada pedagang lain dengan harga mahal,” ujarnya.(sey)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *