Soal Jalan Tembus TNKS, Walhi Endus Kepentingan Pertambangan

Oleh Tgl: March 8, 2014
Hutan Rusak

Selain melintasi kawasan TNKS, jalan tersebut juga diperkirakan akan melintasi kawasan hutan lindung yang saat ini masih terjaga keutuhannya dengan baik

Feri Vandalis

BENGKULU  –  Ketua Divisi Pengembangan Organisasi Dan Jaringan Walhi Bengkulu, Feri Vandalis mengungkapkan Walhi Bengkulu mengendus adanya kepentingan perusahaan pertambangan di kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu terkait rencana pembangunan jalan tembus kabupaten Lebong-kabupaten Merangin, provinsi Jambi yang akan membelah kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

“Pembangunan jalan tembus Lebong (Bengkulu) – Merangin (Jambi) dan Lebong – Musi rawas (Sumatera selatan) bukanlah untuk kepentingan pembangunan tapi ada kepentingan dari perusahaan yang ada di Lebong untuk mengangkut hasil tambang berupa batubara dan emas keluar Provinsi Bengkulu melalui Merangin dan Musi rawas, karena lebih dekat aksesnya,” katanya.

Selain itu, katanya, ruas rencana pembangunan jalan tembus kabupaten Lebong-kabupaten Merangin juga tidak tertuang dalam RTRW kabupaten Merangin maupun RTRW Provinsi Jambi seperti yang tertuang dalam surat penolakan rencana pembangunan jalan tembus Lebong-Merangin oleh Bupati Merangin.

“Rencana tersebut belum dapat diakomodir dalam rencana pembangunan di kabupaten Merangin maupun Provinsi Jambi,” katanya.

Menurutnya, meski mengetahui hal tersebut, tetapi bupati kabupaten Lebong masih bersikeras ingin melanjutkan rencana itu.

“Dengan alasan pembangungan jalan tersebut untuk penguatan pembangunan di kabupaten Lebong, sehingga akses masuk ke kabupaten Lebong dapat lebih dekat,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, rencana pembangunan jalan tembus tersebut juga melintasi zona inti TNKS sehingga dapat melangar undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

“Selain melintasi kawasan TNKS, jalan tersebut juga diperkirakan akan melintasi kawasan hutan lindung yang saat ini masih terjaga keutuhannya dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu, katanya, Bupati Merangin Al haris dalam surat penolakannya juga mengatakan bahwa hutan lindung tesebut merupakan wilayah hulu dari sungai Mentenang dan Sungai Madras yang bemuara ke sungai Batang Langkup. Padahal disii lain saat ini kabupaten Merangin tengah menghadapi persoalan perambahan kawasan hutan secara besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat yang berasal dari luar Kabupten Merangin.

“Fungsi sungai tesebut merupakan sumber air utama masyarakat di kecamatan Jangkat dan aliran sungai tersebut juga bermuara ke sungai Air dikit yang menjadl salah satu sungai utama di kabupten Mukomuko, Provinsi Bengkulu,” jelasnya. (sey)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *