Orasi Seno Gumira Ajidarma Untuk Peringati Hari Film Nasional ke-64

Oleh Tgl: March 28, 2014
hari film nasional 64

Jakarta – Menyambut hari film Indonesia, Badan Perfilman Indonesia, menggelar serangkaian acara yang diawalin dengan orasi Seno Gumira Ajidarma, berupa esai singkatnya berkaitan dengan film Indonesia, Kamis (27/3), di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia, Jakarta.

Esai singkat ini dibacakan penulis yang cerpennya meraih penghargaan sebagai Cerpen Terbaik Kompas (1993, 2007, 2010) ini dihadapan para sineas, aktor/aktris lawas serta penikmat film

Aktris kawakan Jajang C Noer yang membuka acara tersebut mengungkapkan antusiasnya akan hari film Indonesia. Dan mengatakan bahwasanya road show menuju malam puncak yang diselenggarakan pada 1 April 2014 di Ballroom Club XXI, Djakarta Theatre nanti ini juga dirasakan daerah-daerah (Semarang, Banjarnegara dan beberapa SMP/SMA Jabodetabek)  lain lewat pemutaran film Indonesia yang berlangsung 27 Maret – 4 April 2014.

Alex Komang, sebagai ketua badan Perfilam Indonesia (BPI) menyampaikan bahwasanya perfilamn Indonesia saat ini menghadapi persoalan baru, tantangan baru namun sekaligus mendapat peluang baru. “Kemajuan teknologi misalnya, menantang kemampuan kreativitas kita tapi kita harus percaya setiap generasi mempunyai cara untuk menjawabnya,” demikian katanya.

Seno Gumira Ajidarma yang pada malam itu menyampaikan orasinya yang lebih kurang semacam paparan mengenai perkembangan perfilman Indonesia 40 tahun terakhir, mendapat sambutan yang sangat antusias dari hadirin yang hadir pada saat itu.

Hampir 30 menit, penulis “kelas kakap” ini menyampaikan berlembar-lembar celotehnya tentang film Indonesia. Bagaimana sulit mendefenisikan identitas film Indonesia mengingat sejarah bangsa ini dan sentuhan-sentuhan asing yang akhirnya melebur pada Indonesia.

Apalagi menurutnya, jika kita melihat jauh ke belakang, film Indonesia pertama Darah dan Doa yang diputar pertama kali pada 30 Maret 1950 dan menjadi cikal hari film Indonesia ini ternyata sedikit banyak terinspirasi dari Tiongkok.

“Sangat sempit bila kita menyebut kalau film Indonesia adalah film yang dibuat oleh orang Indonesia, didanai oleh orang Indonesia dan syutingnya pun di Indonesia,” kata Seno lagi. Makanya menurut hematnya, akan sangat sulit mendefenisikan film Indonesia jika hanya berangkat pada teritori saja.  “Tidak perlu terpaku pada hal-hal yang demikian, lebih baik fokus kepada membuat film yang baik dan berkarya sebaik-baiknya,” tutupnya padat. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *