Musik Sebagai Terapi Kesehatan

Oleh Tgl: March 4, 2014
terapi-kesehatan-musik

Perkembangan teknologi dan kemajuan zaman kian memudahkan penggemar musik mendengarkan musik kesukaannya dimana saja, tak hanya melalui radio melainkan, MP3, HP dan Ipod. Pun musik ternyata tak hanya sekedar enak didengar, lebih dari itu mendengarkan senandung musik dapat memberikan manfaat banyak.

Bahkan musik digunakan sebagai terapi penyembuhan untuk mengurangi rasa nyeri pada penderita kanker dan alzheimer. Korban kecelakaan yang mengalami trauma otak bersama penderita parkinson dapat bermain drum dan pasien stroke yang bagian tubuhnya mati separuh bisa mengikuti irama metronom (alat yang menghasilkan ketukan berulang ulang dengan interval yang teratur).

Bahkan wanita hamil dengan iringan musik dapat berlatih pernapasan dan relaksasi selama kontraksi, dan menurunkan darah tinggi. Pada anak-anak cacat musik berguna untuk membantu belajar dan berkomunikasi dengan orang lain. Dan jika penggunaannya benar, musik bisa mendukung potensi perkembangan anak.

Diakui Raras Sutatminingsih, Msi, secara psikologis musik adalah sarana relaksasi yang ampuh mampu membuat rileks dan efeknya bisa berangsur ke tubuh. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa (psikofisik) dan keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Orang yang sedang lelah tentunya tidak bisa berpikir dengan jernih begitu juga jika sedang stres badan pun rasanya lemas. Dengan mendengarkan musik yang ritmis, menenangkan dan hentakannya tidak dinamis dapat melancarkan sirkulasi darah, ritme denyut nadi dan pernapasan jadi teratur.

“Musik adalah salah satu metode penyembuhan dan seharusnya rumah sakit seyogianya menyediakan sarana untuk itu,” demikian tuturnya.  Tetapi  bila rumah sakit tidak mempunyainya menurut psikologi Raras  mungkin dikarenakan rumah sakit tersebut sudah mempunyai metode lain.

Namun tentunya tidak sembarang musik dapat menjadi sarana relaksasi yang efektif. Musik rock dianggapnya dapat memberikan efek psikologis merangsang pendengar jadi lebih emosional dan membuat detak jantung tidak teratur yang justru menimbulkan ketegangan.

Meski demikian musik rock sangat individualistik. Jika orang tersebut dapat menyesuaikan diri sejatinya musik rock dapat menjadi sarana pelepasan atau penyaluran emosi. Pada alunan musik rock pendengar diajak mengekspresikan diri dengan berteriak mengikuti  beat dan lirik lagu yang dapat menjadi sarana pelepasan (katarsis) rasa marah dan kesal.

Lantas musik yang bagaimana yang baik untuk didengar? Raras berpendapat musik instrumental dengan beat yang ritmis dapat lebih diterima umum. Bahkan musik instrumental selain memberikan efek tenang juga mampu meningkatkan konsentrasi dan produktifitas kerja.

Pun musik dengan beat lembut tetapi berisi alias mengandung lirik justru tidak efektif jika si pendengar sedang belajar ataupun bekerja yang menuntut konsentrasi lebih. Ini  dikarenakan pikiran jadi terpecah antara belajar/bekerja dan mendengarkan lirik musik.

Tetapi untuk orang yang biasa mengerjakan dua pekerjaan atau lebih sekaligus seumpama mempunyai ‘jendela-jendela’ dalam pikirannya sehingga bisa membagi antara belajar/bekerja sembari mendengarkan musik berlirik. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *