“Memilih” Idola Untuk Si Kecil

Oleh Tgl: March 9, 2014
child_singing

“Ingin menjadi seperti Agnes Monica!”

“Mau kayak Charlie ST 12!”

“Mmmm…Naruto soalnya pandai berantem!”

Sejatinya tidak hanya orang dewasa saja anak-anak pun memiliki idolanya masing-masing. Seseorang yang dianggapnya “hebat”, “pahlawan” dan layak untuk ditiru gerak-geriknya. Jika dulu anak-anak mengidolakan guru, pahlawan, orangtua ataupun orang lain yang berasal dari lingkungan terdekatnya kini anak-anak menjadikan tokoh-tokoh di layar kaca sebagai idolanya.

Seperti penyanyi, aktris/aktor yang notabene adalah orang-orang dewasa. Contohnya saja Agnes Monica dan para personel band. Padahal bila ditilik, public figure seperti mereka lebih wajar bila digandrungi oleh remaja dan usia dewasa.

Sepintas memang terdengar lucu mendengar anak-anak setingkat TK mendendangkan lagu, orang dewasa. Bukan hanya lirik-liriknya saja yang dilantunkan. Lagak sang “idola” pun ditiru.

Emilya Ginting SPsi mengatakan memasuki usia dua tahun kognitif anak mulai terbentuk. Dan dalam usia ini anak-anak mulai mencari subjek imitasi untuk ditiru. Mulai dari cara bicara maupun gerakannya. Dulu anak-anak sering menjadikan keluarga sebagai model.

Misalnya anak-anak perempuan gemar mencoba lisptik atau sepatu tinggi mamanya. Pun juga anak-anak lelaki coba-coba “bertukang” seperti ayahnya. Namun sekarang hal ini tidak lagi ditemukan. Anak-anak lebih cenderung meniru karakter orang-orang yang kerap muncul di layar kaca.

Salah satu penyebab kecenderungan ini karena orangtua sudah teramat jarang ditemukan diam di rumah. Kesibukan bekerja dimana ayah dan ibu lebih sering tenggelam dengan rutinitasnya di kantor atau pergaulan sehingga anak lebih sering ditemani oleh media.

Pun bila mempunyai waktu kosong, orangtua  memilih membawa anak ke pusat perbelanjaan. Alhasil anak-anak lebih sering menyaksikan segala-sesuatu serba ‘bling-bling’ yang tak jauh beda dengan apa yang ditawarkan media elektronik.

Anak-anak memiliki idola adalah hal yang wajar. Hanya saja idola seperti apa? Bila sang model bukanlah contoh yang baik tentunya akan memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan anak.

Sebenarnya orangtua bisa memilihkan  idola untuk anaknya. Dengan cara membatasi serta memilah program televisi yang akan disaksikan anak. Pun ketimbang menghabiskan waktu libur di mall, lebih baik orangtua menggunakan waktu yang ada dengan bersantai dan mengobrol dengan anak. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *