Duh, Repotnya Jadi Single Parent

Oleh Tgl: March 11, 2014
single-parent-stress

Tak ada seorang pun yang ingin menjadi orangtua tunggal. Selain harus menanggung beban emosi akibat kehilangan orang yang dicintai, ia juga harus menanggung beban mental dan ekonomi dalam mengurus rumah tangga sendirian.

Psikolog Emilya Ginting, Psi mengatakan status sebagai orantua tunggal atau single parent bukanlah harapan dari sebuah keluarga. Lika-liku perjalanan hidup sebuah keluarga yang dibina suami-isteri pada akhirnya menjadikan keluraga dengan orangtua tunggal. “Itu sudah ketentuan yang maha kuasa,” ungkapnya.

Single parent bisa karena kematian ataupun perceraian yang memaksa ibu ataupun ayah menjadi penanggung jawab tunggal dari keluarga tersebut. Yang paling memberatkan menjadi orangtua tunggal adalah bertanggung jawab dalam membesarkan anak, mulai dari mengasuh, mendidik, membiayai dan membina anak.

Anak diliputi perasaan kehilangan salah satu orang yang berarti dalam kehidupannya. Bahkan hasil riset menunjukkan anak yang hidup dengan orangtua tunggal rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik, selalu berfokus pada masalah-masalah yang terjadi dan kelemahan-kelemahan yang dimiliki.

Ditinjau dari psikologis, single mother lebih kuat dalam menjalani hidup sebagai orangtua tunggal. Disebabkan wanita lebih banyak mengalami siklus kematangan menuju tahap kedewasaan yakni proses menstruasi, hamil dan melahirkan anak. Sedangkan pria hanya mengalami mimpi basah.

Kebanyakan pada kasus single father sering dijumpai perilaku sibling revalry pada anak, yaitu timbul perasaan bermusuhan dan rasa cemburu pada adik atau kakak karena merasa kurang mendapatkan perhatian dari orangtua atau merasa iri karena orangtua hanya memerhatikan salah seorang saja sehingga timbul persaingan antar saudara.

Ini dikarenakan ayah kurang bisa membagi perhatiannya kepada anak-anak. Tidak seperti ibu yang lebih bisa membagi rasa sayang dengan lebih adil karena memang sudah kodratnya wanita untuk mengasuh anak sedang pria mencari nafkah.

Tapi tidak semuanya pria kurang bisa membagi perhatian pada anak-anak dan tidak semua wanita mampu secara adil membagi sayangnya pada anak-anak,  tergantung pola asuh yang diterapkan keluarga dulu.

Untuk single parent karena perceraian apalagi sebelumnya diawali dengan pertengkaran, amat berdampak pada psikologi anak yang mengakibatkan pada trauma dan akan tampak beberapa tahun kemudian ketika memilih pasangan dan menikah.

Banyak single parent yang akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan segera menikah apalagi kaum pria. Ini karena pria kurang mampu menahan dorongan biologisnya. Pada dasarnya tidaklah menjadi halangan bagi single parent untuk mencari pengganti asalkan ada jangka waktu penyesuaian ke anak-anak dan diri sendiri.

Terutama pada anak-anak, rasa kehilangan akan ayah/ibu harus disembuhkan dulu sebelum mendapat ayah/ibu pengganti. Emilya Ginting juga memberi saran untuk orangtua tunggal. Pertama; harus menggantungkan permasalahan pada Tuhan.

Menjadi orangtua adalah sarana manusia dalam melatih rasa tanggung jawab, kesabaran, emosi dan sebuah jalan mencari makna hidup dibalik tekanan hidup yang dialami sebagai orangtua tunggal. Kedua; lebih memerhatikan anak-anak.

Karena anak yang kehilangan sosok ayah/ibunya butuh perhatian tinggi. Mereka tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Ketiga; yakin dan percaya semua pasti ada jalan keluarnya. Sedikit nasehat untuk pasangan suami isteri.

Jangan terlalu menggantungkan semuanya pada pasangan terutama para isteri. Seorang ibu harus siap-siap berdaya punya keahlian untuk menghasilkan dan tidak tergantung pada suami. Sebaiknya tugas rumah tangga dibagi, tidak hanya dominan dipegang suami ataupun isteri. Ini membuat pasangan lebih bertanggung jawab dan mandiri dan lebih siap menerima seandainya kejadian yang tidak diinginkan terjadi. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *