Stres Tidak Bisa Sembuh

Oleh Tgl: February 5, 2014
Stress

Setiap hari  kita selalu bertemu dengan hal-hal yang menjadi pemicu stres. Seperti macet, deadline di kantor, klien yang rewel, anak-anak yang tidak bisa diatur cekcok dengan suami dan hal-hal lainnya.

Hans Selye, “bapak” stres dunia asal Vinna yang menulis buku The Stress of Life (1956) dan Stress without Distress (1974) mengatakan tidak mungkin menghilangkan stres dari kehidupan apalagi stres ini sangat personal.

Setiap orang memiliki kadar stresnya masing-masing. Satu masalah bisa menjadi pemicu stres buat seseorang tapi bisa jadi tidak untuk orang lain. Makanya, karena stres tidak bisa sembuh yang  semestinya dilakukan adalah mengelolanya.

Stres yang masih relatif kecil dibiarkan menumpuk akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Merujuk pada American Psychological Association, dikatakan stres yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada psikologis saja tetapi juga fisik. Dalam arti penyakit yang sebenarnya tidak ada jadi ada karena stres.

Yang biasa terjadi adalah sakit kepala, gangguan pencernaan, insomnia, hipertensi dan bukan tidak mungkin mengakibatkan stroke. Mencari titik permasalahan dari stres dan menyelesaikannya tidak selamanya menjadi solusi.

Sebab banyak hal, problem tidak memiliki solusi. Seperti macet dan deadline pekerjaan, adakah pemecahan untuk macet dan pekerjaan selain menjalani dan menyelesaikannya?

Makanya jalan terbaik adalah mengelola stres agar tidak menjadi duri dalam daging. Menikmati hidup, bersyukur dan terutama adalah mempunyai stress release. Apa kegiatan favorit Anda? Memancing, memasak, berkebun atau membaca buku? Melakukan kegiatan favorit terbukti bisa mengurangi stres, membuat pikiran fresh, sehingga siap untuk melakukan aktifitas selanjutnya.

Salah satu aktifitas lain sebagai stress release yang juga menyehatkan adalah olahraga. Mental Health Fondation, Inggris menyebutkan melakukan olahraga rutin minimal 30 menit per harinya bisa menurunkan kadar depresi.

Otot-otot yang tegang akibat stres bisa menjadi rileks setelah berolahraga. Pun ketika berolahraga tubuh mengeluarkan hormon endorphin, hormon yang sama dikeluarkan ketika bercinta yang memberikan efek bahagia.

Jangan heran bila setiap sehabis olahraga kita merasa senang dan rileks. Bagaimana, sudah siap mengelola stres Anda? (T.Alur)

 





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *