Stop Baby Blues!

Oleh Tgl: February 26, 2014
baby-blues

Kok bawaannya sedih melulu ya? Padahal si kecil sudah lahir seharusnya ‘kan senang. Emosi juga suka tidak terkontrol. Sebentar mau marah eh sebentar lagi pengen nangis. Bahkan kadang kesal juga sama si kecil. Tiap pulang kantor suami nanyaknya Dedek. Keluarga datang mau ngeliat si kecil.

Pernahkah para ibu mengalami hal demikian pasca melahirkan? Kalau ya berarti Anda mengalami baby blues. Dari penelitian diperkirakan hampir 50% ibu-ibu mengalaminya usai melahirkan. Dan gejala-gejala ini berlangsung mulai dari hitungan hari, bulan hingga tahun.

Roslina Verauli, Mpsi mengatakan beberapa yang menjadi ciri seorang ibu mengalami baby blues adalah perasaan sedih berkepanjangan, menangis tanpa sebab, merasa bersalah dan tak berguna, lelah, cemas, gelisah, tegang, mudah marah, sukar makan dan tidur yang terjadi pasca melahirkan. Sebenarnya yang dialami para ibu ini normal saja. Ada beberapa penyebabnya.

Penyebab Biologis yakni perubahan hormonal. Dimana perubahan yang sangat cepat pada hormon dimana hormon progesteron yang dibutuhkan semasa hamil mengalami penurunan. Sementara hormon laktogen dan prolaktin yang berfungsi menghasilkan air susu meningkat. Perubahan drastis seperti ini memicu kelelahan dan depresi pada ibu sehingga mengalami ”blues”.

Penyebab Psikososial yakni kurangnya dukungan dari orang-orang sekitar. Suami yang tidak mendukung dan bersikap menuntut, tampilan fisik bayi yang tak sesuai harapan, kesukaran menghadapi bayi yang baru lahir yang mengakibatkan pada perubahan gaya hidup dan merasa terabaikan akibat kehadiran si kecil.

Saat si kecil menjadi pusat perhatian dari suami, keluarga maupun orang sekeliling tak jarang ibu merasa tersisihkan yang membuatnya merasa “blue” alias sedih

Penyebab Fisik antara lain kelelahan akibat mengasuh bayi, menyusui, memandikan, mengganti popok, menimangnya sepanjang hari dan kelelahan mengurus pekerjaan rumah tangga.

Dampak Baby blues

Walaupun normal, namun baby blues ini mengakibatkan dampak negatif. Selain ibu yang merasa terabaikan, emosi-emosi yang berkecamuk dalam diri bisa saja membuat bunda mengabaikan atau menghindari bayinya.

Sedang pada pasangan timbul persepsi negatif. Beranggapan suami tidak pengertian, terhindar dari tanggung-jawab di rumah karena pekerjaan kantor akibatnya komunikasi menjadi buruk dan bisa membuat hasrat seks menurun. Lantas apa solusinya?

Selain menjaga bayinya para ibu harus juga memerhatikan kesehatan diri sendiri. Seperti istirahat yang cukup, makan teratur dan bergizi. Tak ada salahnya memanjakan diri dengan menu-menu lezat seperti cokelat.

Apalagi santapan manis dapat mengurangi stres. Asal jangan berlebihan. Nantinya bukan stres yang hilang justru tambah stres karena berat badan meningkat! Memahami emosi diri, apalagi babyblues lumrah terjadi pada para mama pasca melahirkan.

Membicarakan baik-baik apa yang dirasakan kepada suami dapat mengurangi emosi berlebihan. Pun suami jadi tahu apa yang dirasakan isteri sehingga dapat memberikan dukungan sepenuhnya. Dan terpenting adalah meluangkan waktu untuk diri sendiri atau “me time”.

Seperti istirahat, melakukan hal-hal yang menyenangkan diri; merawat diri, memberi perhatian pada tubuh dan kecantikan, aktivitas hobi entah membaca, berkebun, akitivitas seni; bermusik, menyanyi, mendengarkan lagu, olahraga dan pendekatan kepada Tuhan.

Memberi perhatian kepada diri dapat mengurangi gejala baby blues. Karena “me time” dapat meningkatkan persepsi positif tentang diri dan mengubah mood jadi bahagia. (T.Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *