Seksualitas Solo

Oleh Tgl: February 28, 2014
Candi Sukuh

Solo tidak hanya dikenal karena mantan walikotanya yang kini menjadi orang satu di DKI Jakarta yakni Jokowi. Sesungguhnya, Solo, kota kalem ini menyimpan kedahsyatan erotika lewat dua candinya yaitu Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Sukuh dan Cetho berada di dalam satu lokasi di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di kaki Gunung Lawu. Waktu tempuhnya sekira satu setengah jam dari Stasiun Balapan. Dalam perjalanan menuju ke sana, bapak supir mobil yang saya sewa menceritakan sedikit banyak tentang Solo.

Tentang perebutan kekuasaan bangsawan di Solo yang menyebabkan Solo memiliki dua kekeratonan, Jogja yang lebih populer ketimbang Solo dan cerita-cerita khas lainnya yang tentu saja membanggakan Solo.

Si bapak juga cerita kalau di Solo juga populer dengan masakan non halalnya. Terutama yang digemari adalah makanan chinese food-nya. Ternyata tidak hanya daging babi tapi daging anjing juga digemari di sini. Orang Solo menyebutnya jamu. Karena khasiatnya bikin badan panas seperti minum jamu. Unik sekali!

Mendekati kawasan Candi Sukuh, suasana lebih adem dan jalan yang ditempuh pun lebih berliku sedikit curam. Begitu sampai di lokasi suasana magis langsung menyergap. Entahlah, mungkin karena saya terlalu banyak membaca buku tentang Sukuh dan Cetho sehingga pesona candi ini langsung mengikat begitu saya menapakkan kaki di sana.

Sejatinya, Candi Sukuh sangat jauh berbeda dibandingkan Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Tidak megah seperti Borobudur ataupun artistik seperti Prambanan. Berdiri di sepetak lahan yang tidak memakan waktu untuk mengelilinginya.

Tapi percayalah, untuk mengetahui kisah-kisah di balik dinding-dindingnya, satu jam pun tak cukup. Menurut cerita, Candi Sukuh ini merupakan tempat pelaksanaan upacara ruwat (melepaskan sial atau membuang bala) yang dilakoni oleh penganut agama Hindu.

Pun relief di dinding-dindingnya kebanyakan bercerita tentang perang Ramayana, kisah Mahabarata hanya menyinggung soal peruwatan Dewi Durga oleh Sadewa serta percakapan antara Bima dan Siwa di dalam rahim Dewi Kunti.

Salah satu Relief yang ada di Candi Sukuh

Salah satu Relief yang ada di Candi Sukuh

Kisah Dewi Durga sebenarnya sedikit tragis dan sebagai wujud ketololan ego besar laki-laki. Sebenarnya Durga adalah Dewi Uma yang dikutuk menjadi Durga oleh suaminya Dewa Siwa. Ingin “menguji” kesetiaan sang istri, Dewa Siwa pura-pura sakit dan meminta Dewi Uma untuk mencari susu dari seorang penggembala di bumi guna menyembuhkan dia.

Dewi Uma yang sangat mencintai suaminya turun ke bumi demi mencari obat buat Siwa. Di bumi dia bertemu dengan si penggembala yang dimaksud yang ternyata adalah Siwa sendiri! Untuk mendapatkan susu, Dewi Uma harus tidur dengan si penggembala dan dia melakukannya.

Mirisnya, karena dia bersetubuh dengan si penggembala yang notabene adalah Siwa, pun dilakukan untuk menyelamatkan suami, dia dikutuk menjadi raksasa mengerikan merupa Durga yang tinggal di Sentra Gandamayu  yang serupa neraka!

Selain cerita-cerita yang bersembunyi di balik relief-relief yang paling menarik dan sensualnya lagi adalah simbol-simbol lingga dan yoni yang ada di seputaran candi yang bentuknya mirip pramida terpotong ini.

Patung tanpa kepala yang memegang kemaluannya. Menurut cerita, ini adalah perwujudan bahwasanya menikah bukan hanya soal melakukan seks secara halal tapi juga bentuk tanggung-jawab kepada keluarga dan pemberian nafkah batin dan finansial kepada istri dan anak.

Jika si laki-laki tidak bisa melakukan tanggung-jawab tersebut, sudah selayaknyalah dia tidak menikah dan “menyenangkan dirinya sendiri” alias onani! Kemudian, pada lantai gapura pertama ada simbol penyatuan lingga dan yoni dengan rantai yang mengelilinginya.

Arti dari simbol ini adalah persetubuhan bisa dilakukan ketika pasangan terikat dalam perkawinan. Bila itu dilanggar akan ada hukuman yang menanti. Adakah ini sebuah bentuk keegoisan laki-laki lagi?

Patung yang memegang kemaluannya

Patung yang memegang kemaluannya

Karena berkembang kepercayaan ketika seorang perempuan yang melewati gapura pertama sampai ke puncak candi, kainnya yang dililitkan ke pinggang jatuh tanpa sengaja, berarti dia masih perawan. Entah, benar atau tidak, ada baiknya jangan mengikatkan kain di pinggang ketika berkunjung ke Candi Sukuh.

Tak jauh berbeda dengan Sukuh, Cetho juga menyimpan erotikanya sendiri. Namun letaknya yang lebih tinggi dari Sukuh membuat candi ini lebih adem dan nyaman. Pemandangannya pun lebih nikmat.

Saya disuguhkan hamparan kebun teh yang luar biasa indahnya. Bahkan kamera pun tak bisa membekukan kesempurnaannya. Gapura-gapura yang berdiri dengan posisi semakin ke atas semakin menanjak sejenak mengingatkan pada pura di Bali.

Wajar saja, karena memang candi ini adalah candinya umat Hindu pun sampai sekarang masih dijadikan tempat untuk melakukan upacara keagamaan. Menariknya dari candi ini, di  halaman dalam candi ada batu bersusun yang (lagi-lagi) membentuk pertemuan antara lingga dan yoni.

Selain lingga dan kawannnya—yoni, saya juga menemukan patung Bima dan Arimbi yang saling memunggungi, dimana Bima menghadap ke depan. Maknanya adalah Bima sebagai kepala rumah tangga mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah. Sedang Arimbi yang menghadap ke belakang artinya sebagai istri tugasnya dapur, sumur, kasur.

Memasak, mencuci, membesarkan anak dan sebagai teman di ranjang. Jadi menurut cerita zaman dulu (mungkin juga sampai sekarang) masyarakat Jawa mengajarkan perempuan kudu wani ditoto (mau diatur) sebagai istri.

Kalau di ranjang harus seperti pelacur supaya suami puas dan tidak selingkuh, di dapur seperti pembantu pintar masak, lihai mengatur keuangan sedang di ruang tamu seperti ratu/anggun berwibawa mendampingi suami.

Penyatuan lingga yoni yang diikat dengan rantai yang menandakan persetubuhan hanya boleh dilakukan ketika sudah menikah

Penyatuan lingga yoni yang diikat dengan rantai yang menandakan persetubuhan hanya boleh dilakukan ketika sudah menikah

Sebenarnya perihal wani ditoto itu bukan maksud untuk merendahkan perempuan tetapi “katanya” menempatkan perempuan pada posisinya. Bahkan ada sebuah pengakuan bahwasanya manusia yang paling kuat di muka bumi ini adalah perempuan bukan laki-laki. Lihat saja, laki-laki dengan ambisinya bisa jaya tapi kalau tidak bisa mengontrol hawa nafsunya akan hancur. Karena laki-laki akan melakukan apapun untuk selangkangannya eh untuk perempuan.

Siapa yang tak terusik dengan informasi itu. Tidak hanya di barat saja, seks adalah sesuatu yang menarik dibahas. Diskusi yang asyik diperdebatkan. Hanya saja kita orang timur terlalu munafik mengakui kalau seks itu kebutuhan bukan dosa yang patut disembunyikan rapat-rapat.

Uniknya Semuanya ini bisa kita temukan di sebuah sudut kecil di kota yang kecil juga. Kota yang geliatnya teredam oleh kota sebelahnya. Kota yang konservatif. Kota yang jalan hidupnya alon-alon (pelan-pelan). Malu menampakkan kecantikannya. Seperti perawan yang menyembunyikan birahinya. Kota itu adalah Solo. (T.Alur)

 

 





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *