Sabang, Berkenalan Dengan Perawan Cantik

Oleh Tgl: February 21, 2014
Salah satu spot menarik di Sabang

Ujung Sumatera itu sangat cantik. Banyak yang menyebut surga. Buat saya, Sabang ibarat perawan cantik yang sengaja disembunyikan saking eloknya. Dipaga  dan dipagari supaya tidak tersentuh oleh laku tidak baik. Pagarnya tentu saja berupa syariah islam.

Jujur sebenarnya saya sedikit terganggu dengan adanya rambu-rambu yang harus ditaati betul. Tapi tentu saja sebagai pendatang kita harus menghormati aturan dari tempat yang kita kunjungi.

Seperti pepatah mengatakan, Lain lalang lain belalang, lain lubuk lain ikannya dan dimana bumi dipijak disitu bumi dijunjung. Anggap saja ini semacam obsesi menapakkan kaki ke ujung barat Sumatera.

Untuk mencapai Sabang kita harus melewati Banda Aceh dulu. Buat wisatawan perempuan sebaiknya mengenakan pakaian tertutup. Yang saya maksud dengan tertutup bukan sekadar asal tertutup tetapi benar-benar tertutup—celana panjang dan  kaus berlengan panjang juga, jangan lupa membawa pashmina atau selendang untuk menutupi kepala.

Waktu tempuh yang diperlukan sekira 12 jam dengan mengendarai bus. Saat itu saya berangkat pagi sekira jam delapan malam. Dan sampai di kota Banda Aceh sekira pukul sembilan pagi. Kota Banda Aceh termasuk kota yang bersih, teratur dan rapi.

Jalannya kelihatan baru, mungkin dikarenakan pembangunan besar-besaran pasca tsunami tersebut makanya Banda Aceh kelihatan segar. Menurut abang becak yang membawa saya berkeliling Kota Banda Aceh, selama ini Banda Aceh hanya semacam persinggahan buat turis-turis asing. Destinasi utama mereka adalah Sabang.

Katanya sih, Sabang itu surganya snorkeling dan diving. Hmm…wajar jika suatu hari kamu berkunjung banyak di antara turis itu yang membawa perlengkapan menyelam. Meski bukan tujuan utama bukan berarti tidak ada yang bisa dilihat di Kota Banda Aceh.

Banyak tempat-tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sebut saja Masjid Raya Baiturrahman yang arsitekturnya sangat nyeni dan Pantai Lampu’uk yang terkenal dengan pasir putihnya.

Terjangan tsunami 2004 lalu di Banda Aceh juga meninggalkan semacam “oleh-oleh” wisata seperti Museum Tsunami dan PLTD Apung seberat 2600 ton yang terseret sepanjang 5 kilometer dari Pantai Ulee Lheue ke daratan.

Mie Aceh

Mie Aceh

Dan jangan lupa, “haram” rasanya kalau ke Banda Aceh tapi tidak mencicipi Mie Aceh dan Kopi Pancungnya. Tradisi minum kopi sudah melekat erat menjadi budaya yang mendarah daging di Banda Aceh. Mulai dari kafe yang keren sampai yang tradisional.

Sabang

Langit yang cerah dan cuaca yang bersahabat memacu semangat saya untuk memulai perjalanan ke Sabang. Saya sudah tak sabar melihat keelokan Sabang yang didengung-dengungkan oleh orang. Lagi-lagi dengan becak motor saya menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Suasana cukup lengang dan santai. Samar saya mendengar percakapan dengan bahasa Aceh. Ternyata, cukup banyak juga penduduk setempat yang mengunjungi Sabang. Sedikit berbeda dengan teman saya yang asli Banda Aceh tapi semenjak peristiwa naas tersebut belum berani menginjakkan kakinya ke Sabang.

Pemandangan dari Kota Sabang

Pemandangan dari Kota Sabang

Bahkan untuk menatap lautpun dia masih takut. Duka itu ternyata masih ada terselip di hati sebagian penduduk Banda Aceh. Dua jam perjalanan penyeberangan, sedikit membosankan. Karena yang terlihat hanyalah laut, laut dan laut.

Dalam hati saya berontak, “Mana, mana keindahan itu?” Tidak berapa lama kapal merapat dan tibalah saya di Pelabuhan Balohan, Sabang. Begitu kaki menginjak ke daratan, segerombol laki-laki berkulit gelap dengan dialek daerah langsung memberondong menawarkan transportasi.

Kebanyakan orang yang hendak berwisata ke Sabang biasanya menyewa mobil dari Banda Aceh dan pada umumnya mereka keluarga atau serombongan. Karena saya waktu itu jalan berdua dengan teman, kami tidak menyewa mobil,

Untuk mencapai Iboih, saya menaiki transportasi umum L300 dengan biaya Rp 50.000—cukup mahal memang. Sepanjang perjalanan mata saya dijamu oleh pemandangan hutan belantara. 30 menit berlalu sampailah saya di Iboih. Atmosfer surga kurang terasa. Mungkin karena surga yang sesungguhnya berada di dalam air.

Pantai Iboih memang bagus. Jernih, bersih, kita bisa melihat bebatuan di bawah laut hanya dengan melongokkan kepala. Kerang-kerang unik bertebaran di sepanjang pantai. Dari tepi pantai saya memandang jauh ke pantai sembari berbisik, ada surga itu tersembunyi di bawah…

Titik 0

Ada euforia tersendiri  ketika berhasil sampai di Titik 0. rasanya berteriak senang. Titik 0 ditandai dengan sebuah monumen yang puncaknya bertengger burung garuda. Bangunannya memang cukup usang tapi setiap orang yang berhasil sampai di sana pasti bangga—Titik 0.

Titik Nol Sabang

Titik Nol Sabang

Suasananya tenang hanya ada sedikit keriuhan yang disebabkan oleh sekumpulan monyet yang bermain di sana. Hati-hati saja agar jangan sampai dijahili oleh monyet-monyet di sana. Pemandangan dari Titik 0 lebih dari indah. Karena kita akan menatap laut lepas dan rasanya ingin menjerit “I am the king of the world!” seperti yang diteriakkan Leonardo Di Caprio dalam film Titanic.

Secara keseluruhan Sabang memang luar biasa. Namun sebagai tempat wisata, kesan saya Sabang kurang menunjukkan taringnya. Sebagai tempat yang menyimpan kepingan surga, sudah selayaknya Sabang mulai berdandan cantik. Janganlah terlalu memenjara diri dengan alasan menjunjung tinggi aturan agama. Bebas bukan berarti dosa terikat juga tak selamanya benar. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *