Perubahan Iklim, Waspadai Kenaikan Suhu Bumi

Oleh Tgl: February 25, 2014
Perubahan Iklim

Akan tetapi Karbon Dioksida itu terlalu banyak dilepaskan ke udara. Bahkan dari penilitian UNEP berdasarkan Indikator emisi Co2 trend emisi gas meningkat, dimana masyarakat global melepaskan 40 milyar ton Co2 ke udara per tahunnya

Titi Resdiana

BENGKULU – Koordinator Divisi Administrasi Umum Dewan Nasional Perubahan Iklim Murni Titi Resdiana mengatakan perubahan iklim yang saat ini terus berlangsung sudah dalam tahap  mengkhawatirkan jika tidak dilakukan tindakan pengendalian.

“Emisi memberikan efek rumah kaca. Gas rumah kaca bersumber dari emisi yakni Karbon Dioksida, jika emisi karbon Dioksida sudah banyak dikeluarkan efeknya kemudian terjadi pemanasan global, dan akhirnya menyebabkan resiko bencana,” katanya pada saat Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim Lembaga Pers Dr. Soetomo dan Kedutaan Besar Norwegia, di Hotel Santika, Selasa (25/2).

Titi mengatakan perubahan iklim terjadi akibat semakin banyak emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan penduduk bumi, kendati dengan gas rumah kaca atau Karbon Dioksida suhu bumi rata-rata 14 derajat Celcius dan membuat penduduk dunia hangat untuk berkehidupan.

“Akan tetapi Karbon Dioksida itu terlalu banyak dilepaskan ke udara. Bahkan dari penilitian UNEP berdasarkan Indikator emisi Co2 trend emisi gas meningkat, dimana masyarakat global melepaskan  40 milyar ton Co2 ke udara per tahunnya,” jelasnya.

Dikatakan dia, jika tidak dilakukan upaya pengurangan maka bukan tidak mungkin 70 milyar ton Co2 dilepas ke udara tiap tahunnya. Yang kemudian dapat meingkatkan suhu udara bumi sebesar 2 derajat Celcius pertahunnya.

“Tahun 2013 konsentrasi Co2 yang dimonitor statsion sudah mencapai 400 PPM, Padahal kondisi global yang paling jelek, konsentrasi  tidak boleh mencapai 450 PPM jika sampai mencapai titik maksimum berarti suhu dibumi akan meningkat 2 derajat C pertahunnya,” terang dia.

Dikatakan jika sampai terjadi peningkatan suhu seperti itu, maka bencana yang sekarang terjadi seperti banjir dan bencana lainnya akan lebih mengerikan. Ditambah lagi penelitian mengatakan akibat kenaikan suhu udara badai yang dihembus bumi akan semakin besar dan lebih sering terjadi.

“Emisi yang terjadi paling besar disebabkan oleh emisi lahan gambut dan hutan. Karena itu harus ada upaya pengendalian pada sektor hutan dan lahan gambut seperti mengurangi illegal loging dan kebakaran hutan, serta mengggunakan produk yang ramah lingkungan,” tutupnya.(sey)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *