Perempuan yang Mau Dinikahi Siri Perempuan Tidak Mandiri

Oleh Tgl: February 14, 2014
cincin-nikah

Ini dikatakan novelis dan feminis Ayu Utami. “Perempuan hanya mendapatkan perlindungan dan rasa aman di bawah kepemimpinan lelaki. Akibatnya perempuan jadi sangat membutuhkan lelaki dan status perkawinan. Karena ketergantungan perempuan terhadap lelaki ini, terjadi perkawinan di luar monogami termasuk perkawinan siri.”

Tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Ayu Utami, Sosiolog Ida Ruwaida Kebutuhan bisa menjadi alasan lain mengapa nikah siri tetap dipraktikkan sampai sekarang. Sosiolog Ida Ruwaida dari UI mengatakan meski zaman sudah modern namun tetap saja masih banyak perempuan yang menganggap status menikah itu sebagai kebutuhan. Dimana lebih baik menikah siri ketimbang tidak menikah sama sekali.

Lebih lanjut Ayu Utami mengatakan secara psikologis banyak sekali perempuan yang tidak berani hidup sendiri. Jika perempuan mandiri dan tidak membutuhkan status perkawinan, maka mereka tidak tergantung pada perkawinan dan suami. Jika mereka tidak tergantung pada pernikahan ataupun pria, mereka tidak akan minta dinikahi. Maka tak dibutuhkan juga “kawin siri”. “Perempuan yang mau “dinikahi siri” adalah yang tidak mandiri secara mental/psikologis,” tegas penulis yang baru-baru ini meluncurkan bukunya yang berjudul Maya.

Ketika ditanyakan apakah “suka sama suka” bisa dijadikan landasan untuk melakukan pernikahan siri, Ayu berkomentar pernikahan agama dilakukan untuk alasan yang lebih serius daripada sekadar suka sama suka. “Pernikahan agama itu bukan urusan kedua pihak. Seks memang urusan pribadi (misalnya, dua orang yang suka sama suka). Tapi dalam pernikahan agama selalu ada pihak ketiga. Entah Tuhan, penghulu, atau masyarakat,” jelas Ayu.

Menurutnya pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang egaliter, monogami, dan selamanya. Tapi, pernikahan ideal ini juga tidak boleh dipaksakan. Apalagi dipaksakan dari luar atau dengan kekerasan. Pernikahan ini hanya boleh dicita-citakan dan diusahakan dengan kasih sayang. Tapi, kalau memang perkawinan tidak bisa diselamatkan—karena perkawinan adalah urusan sedikitnya dua orang, suami istri, dan tak gampang menyatukan dua orang—maka perceraian tentu saja harus bisa dilakukan. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *