Mencari ‘Jejak’ Tuhan di Pasar Baru

Oleh Tgl: February 22, 2014
Pasar Baru

Friedrich Nietzsche mengatakan Tuhan sudah mati namun saya menemukan jejak-jejak-Nya di Pasar Baru.

Pertanyaan tentang Tuhan selalu menjadi tanda tanya selama jutaan tahun usia bumi ini. Apakah dia benar-benar ada? Apakah dia yang sesungguhnya membuat semesta ini ada? Benarkah sebenarnya dia sosok yang diciptakan sebagai jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya?

Seorang teman pernah berkomentar, konsep Tuhan hanya membuat pikiran manusia sempit dan berhenti untuk belajar. Stop untuk  untuk mencari tahu karena dengan mudah akan berkata “itulah kuasa Tuhan”.

Namun adalah oksimoron, ketika dibalik semua kesangsian orang akan eksistensi Tuhan, selalu ada celah kosong di dalam hati manusia. Sebuah ruang yang tidak bisa diisi dengan sesuatu yang material. Tempat dimana katanya hanya Tuhan yang sanggup mengisi.

Makanya, meski berpuluh abad sudah terlewati, zaman berganti rupa, Tuhan tidak pernah ditinggalkan. Selalu ada hal baru tentang Tuhan—tanpa  meninggalkan yang lama. Apakah sebegitu butuhnya kah manusia akan Tuhan?

Ini bukan trip religi. Apalagi perjalanan yang dilakukan untuk mencari pencerahan. Meski sudah pertengahan 2012 saya menunggu Love Our Heritage—komunitas pecinta sejarah dan bangunan tua Jakarta, memasukkan trip ‘Wisata Religi Pasar Baru’ ke dalam agendanya.

Kalau perlu penjelasan, bisa dibilang ini semacam perjalanan untuk mengenal betapa kayanya ajaran-ajaran agama di Indonesia—dalam hal ini Jakarta.

Ada beberapa tempat peribadatan dengan latar belakang agama yang berbeda di Pasar Baru. Dan inilah yang ingin kami telusuri. Hari itu hari Minggu, seharusnya saya melakukan ibadah selayaknya umat nasrani lainnya. Namun saya memilih untuk ‘beribadah’ di lima tempat peribadatan sekaligus. Sai Study Group (SSG), Hare Krishna Temple, Vihara Sin Tek Bio-Kuan Im Bio, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.           

Berkunjung ke Rumah Tuhan

Islam, Khatolik dan Budha. Sebagai tiga dari agama yang diakui Indonesia, tentu saja kita sudah familiar dengan ajaran agamanya. Namun bagaimana dengan Sai Baba dan Hare Khrisna?

Terletak di ujung Pasar Baru Selatan, tempatnya teduh dengan bangunan memanjang ke belakang. Sedikit agak kecewa, karena saya mengira bakal disambut dengan aksesori berbau hindi. Namun bangunan puja Sai Baba ini terkesan jauh dari aroma agama.

Namun ketika melangkah ke dalam bangunan, patung Ganesha dan foto-foto Sai Baba menyambut. Pun semakin menjejak ke dalam, terdengar alunan hymne dari dalam sebuah ruangan, yang dalam liriknya memanggil Sai Baba.

Sai Baba

Sai Baba

Brother Hansen (Brother sebutan untuk guru yang ada di SSG) mengatakan saat itu sedang ada meditasi. Kenapa dalam meditasi menyebutkan nama Sai Baba, Brother menjelaskan kalau dalam ajaran Sai Baba, saat meditasi, seorang murid menggumamkan nama gurunya.

Sehingga tercipta koneksi antara guru dan murid tersebut. Pun, dalam sebuah meditasi yang khusyuk, Sai Baba akan mewujudkan dirinya dalam bentuk cahaya kepada muridnya.

Sai Baba sendiri, menurut  Brother bukanlah Tuhan seperti yang ada di agama-agama. Dan keberadaannya bukan bertujuan menciptakan agama baru. Sai Baba mengatakan, kita semua adalah Tuhan hanya saja tidak semua dari kita menyadari kalau kita adalah Tuhan.

“Ajaran Sai Baba adalah kasih. Apapun agama dan kepercayaan kamu, lakukanlah semuanya dengan kasih,” Brother mengutip ajaran Sai Baba. Nama Sai Baba bukan kemutlakan untuk dilafalkan dalam meditasi, kita bisa melafalkan nama Tuhan kita masing-masing.

Dalam ajarannya dinubuatkan meski sudah wafat 2011 lalu, Sai Baba akan mengalami reinkarnasi sebagai Prema Sai yang kelak akan membebaskan manusia dari kesengsaraan.

Alunan hyme tidak berhenti ketika saya dan rombongan tour meninggalkan SSG. Saya sempat mengintip ke dalam ruangan meditasi. Dingin dari uap AC menciumi kulit. Plus aroma dupa memenuhi rongga hidung.

Mata saya menangkap punggung beberapa orang yang duduk bersila sembari menggoyang badan kanan dan kiri menghadap foto Sai Baba berpigura warna emas berukuran jumbo. Ada nuansa spiritual yang menenteramkan di sini. Namun tetap saja asing.

Persinggahan kedua kami adalah Hare Khrisna Temple. Masih berlokasi di Pasar Baru Selatan, hanya saja memasuki sebuah gang kecil berbatu, sampailah kami di Kuil Hare Krishna.

Hare Khrisna temple-bo

Kuil Hare Krishna

Hampir sama dengan SSG, Kuil Hare Khrisna juga sederhana. Tidak ada penampakan kalau ini adalah bangunan peribadatan. Bentuknya L, menyerupai rumah tinggal biasa. Hanya sebelah kiri bangunan, dibuka lebar dengan penampakan patung-patung khas hindi dan meja penyembahan.

Kami dibawa ke lantai dua, ke sebuah ruangan kecil memanjang dan ah…di sinilah tempat pemujaan Krishna sebenarnya. Hare Krishna berbeda dengan Hindu. Hare Krishna mempercayai Khrisna sebagai Tuhan yang memberikan nubuatan kepada Arjuna.

Dalam peribadatannya para pengikut Hare Khrisna selalu melafalkan nyanyian pendek yang diiringi gendang musik. Seperti ketika datang, kami diajak menyanyikan lagu puja kepada Khrisna Sang Tuhan

Hare Krishna Hare Krishna, Krishna  Krishna  Hare Hare, Hare Rama  Hare Rama , Rama Rama  Hare Hare. Sebagian teman rombongan saya menyanyikannya dengan gembira. Saya mencoba mengikuti, namun ada perasaan janggal yang sukar didefinisikan.

‘Sahabat Lama’

Kenapa ada orang yang memilih untuk berpindah agama? Apakah surga yang dijanjikan masing-masing agama berbeda? Apakah kedamaian dan ketenangan hanya milik satu agama saja? Apa definisi ketenangan buat tiap-tiap manusia berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan ini membentur-bentur dalam pikiran saya dalam perjalanan kami menuju tempat-tempat selanjutnya. Sehingga saya tidak secara total lagi menikmati persinggahan-persinggahan selanjutnya.

Gereja-Katedral-bo

Gereja Katedral

Sampai pada akhirnya, kami tiba di tujuan terakhir—Gereja Katedral. Di saat teman-teman yang lain sibuk memperhatikan sisi-sisi Katedral, saya duduk termangu di bangku panjang di dalam gereja. Mencermati patung Yesus disalib di dinding di belakang altar.

Ada rasa damai dan ketenangan yang kurang lebih sama, saya rasakan ketika berada di tempat-tempat sebelumnya. Hanya saja perasaan tenang ini sudah lama saya kenal.

Seperti sahabat lama yang menemani sepanjang usia saya. Akankah perasaan ini akan muncul ketika saya dilahirkan sebagai Hindu, Budha, Islam atau jika saya mengenal Hare Khrisna lebih dulu ketimbang Kristen?

“Kamu tidak berdoa?” salah seorang teman dari rombongan bertanya kepada saya, sebelum dia membentuk salib dengan tangan dan menutup mata. Saya terdiam. Melihat dia sejenak kemudian kembali memandang Yesus. Lalu, seperti ada kekuatan yang melemaskan lutut saya untuk berlutut, menangkupkan tangan, kemudian…..berdoa. (T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *