Lembaga Pers Dr. Soetomo Adakan Lokakarya Perubahan Iklim Di Bengkulu

Oleh Tgl: February 17, 2014
Perubahan Iklim

tujuannya untuk menjadikan wartawan pesertanya mau dan mampu meliput dan melaporkan isu-isu perubahan iklim, khususnya dalam kaitan kerusakan hutan dan program REDD+ setempat

Lucia Susmiyarti

BENGKULU – Untuk mengantisipasi banyak dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan, Kementerian luar negeri Norwegia bekerjasama dengan Lembaga Pers Dr. Soetomo akan menggelar lokakarya perubahan iklim di Bengkulu dari tanggal 25-26 Februari 2014 di Bengkulu.

“Lokakarya ini sebagai salah satu implementasi dari komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26 persen dari tingkat business as usual (BAU, kondisi tanpa adanya rencana aksi) pada tahun 2020 atau sampai dengan 41persen dengan bantuan internasional, sebagaimana yang diumumkan Presiden Yudhoyono pada tahun 2009,” kata Perwakilan LPDS Lucia Susmiyarti, Senin (17/2).

Dikatakan dia,  dasar lokakarya tersebut adalah Peraturan Presiden (Perpres) nomor 62 Tahun 2013 tentang Badan Pengelola Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut (Reduction Emissions from Deforestation and Forest Degradation, REDD+) yang selanjutnya disebut Badan Pengelola REDD+.

“Sebagai pengganti Satuan Tugas REDD+, badan tetap baru ini bertugas memastikan pelaksanaan upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari deforestasi, degradasi hutan dan konversi lahan gambut,” ujarnya.

Menurutnya, lokakarya ini pesertanya hanya 20 wartawan media lokal di masing-masing kota tempat lokakarya berlangsung yakni wartawan media cetak, elektronik, dan dalam jaringan menjadi peserta. Nantinya kata dia peserta tersebut diarahkan untuk memenuhi maksud sehubungan dengan isu perubahan iklim, khususnya dalam kaitan adaptasi, mitigasi, dan dengan program REDD+.

“Sehingga lembaga Pers Dr. Soetomo menyelenggarakan lokakarya wartawan Meliput Perubahan Iklim dengan kerja sama kedutaan Norwegia di Jakarta, tujuannya untuk menjadikan wartawan pesertanya mau dan mampu meliput dan melaporkan isu-isu perubahan iklim, khususnya dalam kaitan kerusakan hutan dan program REDD+ setempat,” ujarnya.

Selain itu, katanya, dalam periode 10 bulan antara Maret 2012 hingga Januari 2013 lokakarya telah berlangsung di 10 provinsi di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

“Kawasan tiga pulau besar di luar Jawa ini memiliki hutan tropis dan lahan gambut yang luas. Lokakarya telah berlangsung di Medan, Batam, Pekanbaru, Kota Jambi, dan Palembang di Sumatra. Di Kalimantan, lokakarya diadakan di Palangkaraya, Pontianak, Samarinda, dan Banjarmasin. Di Papua pelatihan diadakan di Jayapura,” lanjutnya.

Kini, ujarnya, dalam tahun 2014 lokakarya dilakukan di Bandaaceh, Bengkulu, Palu (Sulawesi Tengah), Kendari (Sulawesi Tenggara), dan Manokwari (Papua Barat).(sey)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *