Jogjakarta Tempat Terbaik Untuk Jatuh Cinta

Oleh Tgl: February 11, 2014

“Kalau mau jatuh cinta itu jangan di Jakarta, nggak asyik sama sekali. Sudah macet, kemana-mana jauh,” itu komentar teman saya ketika suatu kali di sebuah kafe di bilangan SCBD, sambil menikmati secangkir cappuccino, kami bercakap-cakap mengenai tempat jatuh cinta paling tepat.

Si teman cerita, dulu pertemuannya dengan  orang yang dia cintai itu di sebuah toko buku. Mereka berpapasan di deretan buku Jostein Gaarder. Teman saya memegang Dunia Sophie sedangkan si perempuan memegang Maya. Sejak pertemuan itu, teman saya menyadari kalau perempuan di hadapannya adalah Siri-nya. “Kalau kamu sendiri?” dia bertanya kepada saya. Dan tanpa perlu berpikir panjang saya menjawab, “Jogjakarta….”

Mungkin awal mulanya karena Kla Project membawakan lagu lawas Yogyakarta, sehingga saya—dan banyak orang lain—mencandui Jogja. Kemudian alasan lain, saya pernah pacaran dengan pria asal Jogja yang sering mendongengi saya tentang kotanya.

Kami pernah berjanji akan mengunjungi Jogja bersama-sama. Namun sayangnya, kesempatan tersebut tidak kunjung datang. Dan sudah (mungkin) kelima kalinya saya ke sana tanpa dia. Terakhir kali ke sana awal Februari 2013 lalu—setelah Yogyakarta menjadi lagu yang biasa dan tidak memiliki lelaki Jogja lagi sebagai pasangan, saya tetap merasa, Jogja menjadi tempat terbaik untuk jatuh cinta.

Pemandangan khas di Batik Mirota

Pemandangan khas di Batik Mirota

Feel the atmosphere….

Bagi yang menjalani rutinitas di kota sumpek seperti Jakarta, Jogja adalah kota yang menawarkan kelegaan. Ruangnya tidak sepadat Jakarta, atmosfernya manusiawi, tidak diburu waktu plus sapaan-sapaan halus dari orang-orang yang lewat.

Suasana malam minggu nan meriah di Malioboro selalu dirindukan. Tidak pernah sepi dari kelap-kelip lampu di warung lesehan, genjrengan para pengamen, aroma kain batik dari toko yang menguar, perajin tato yang menawarkan jasanya, lampu-lampu sepeda hias di alun-alun selatan.

Orang-orang yang tiada hentinya mencoba melewati dua pohon beringin—entah percaya pada mitos di sana atau sekadar coba-coba. Semuanya menjadi satu kesatuan utuh yang menciptakan Jogja menjadi kota ternyaman untuk ditinggali.

Keraton ratu Boko

Keraton ratu Boko

Taste all the foods….

Gudeg memang tidak menjadi daftar makanan favorit saya selama di Jogja. Tapi tentu saja, Jogja tidak kehilangan pikat kulinernya. Menyantap sarapan pecel di depan Pasar Beringharjo adalah menu wajib ketika bertandang ke kota budaya ini.

Sedang pilihan untuk makan siang, ada Warung Bu Ageng miliknya  seniman Butet Kertaradjasa yang menghadirkan menu-menu khas Jawa, Soto Pak Marto yang murah dan manteb. Nah, kalau mampir ke Museum Vredeburg, santapan khas ala Indische Koffie alternatif yang tak kalah maknyus.

Wedang Jahe (Rp. 5000) cocok disesap sembari menikmati Jogja di kala hujan. Alunan lagu-lagu zaman dulu akan membawa kita pada nostalgia yang tanpa akhir. Bila matahari sudah turun, pilihan makanan akan semakin berjubel. Angkringan Lik Man di sebelah Stasiun Tugu dengan jajanan—ya gorengan, sate, kopi jossnya yang serba murah, mantep!

Enjoy the cultures

Buat yang suka dengan seni dan budaya, Jogja akan membuat kamu semakin mencintai tradisi. Dan bagi yang tidak (belum) suka, Jogja akan ‘memaksa’ kamu untuk mencintai art and culture. Borobudur yang megah—teratai di atas bukit kemudian Prambanan yang seksi.

Terserah menggilai yang mana, legendanya yang eksotis atau sejarahnya yang rupawan. Jangan lupa mengunjungi Arca Durga yang berada di dalam Candi Siwa (di tengah komplek Candi Prambanan). Sesapi nuansa magis yang dipancarkan oleh Durga alias Jonggrang tersebut. Apakah kamu berhasil menangkap keangkuhan dari putri yang dikutuk menjadi candi keseribu itu?

Keraton, mampirlah ke keraton untuk mengetahui pasti kenapa kekeratonan Jogja begitu dipuja oleh rakyatnya. Kenapa sultan menjadi seumpana ‘tuhan’ bagi penduduk Jogja. Tradisi yang menemali keraton yang tak menutup kemungkinan menjadi pikat wisata yang luar biasa.

Komplek Candi Prambanan

Komplek Candi Prambanan

Rest tight

Tidak usah khawatir dengan penginapan. Jogja menawarkan penginapan multi kelas—mulai dari kelas backpacker sampai strata koper ada. Buat yang kantongnya pas-pasan, penginapan di sekitar kawasan Jalan Sosrokusuman (di sebelah Mall Malioboro). Mulai dari Rp 50.000 untuk single bed, Rp 75.000 untuk double bed, mau sedikit ‘mewah’ dengan AC hanya dengan Rp 100.000.

Sebagian penginapan di kawasan Sosrokusuman tidak memiliki kamar mandi pribadi melainkan umum. Namun jangan risau, kebersihannya tetap oke dan tempatnya nyaman. Mau yang suasana sedikit berbeda, Jalan Dagen, seberang Mall Malioboro juga bisa jadi pilihan.

Kalau Jalan Sosrokusman suasananya lebih menyerupai kos-kosan, Jalan Dagen lebih rame dengan diselang-selingi tempat makan dan toko souvenir. Pun sebagian besar penginapan di Jalan Dagen menyediakan kamar mandi di dalam kamar.

Seorang penulis bernama Yusi Avianto Pareanom pernah bilang, Jogja adalah kota romantis yang mengundang romantika dan melankolik sekaligus. Begitu kuatnya magnet kota pelajar ini sampai-sampai, walaupun kamu belum pernah ke sana, kamu akan tetap punya kenangan tentang Jogja dan segala keriuhan yang ada di sana. Dan, setelah saya pikir-pikir, bisa jadi ini adalah alasan saya kenapa mengatakan Jogjakarta adalah tempat terbaik untuk jatuh cinta. (T.Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *