Dieng, Berkunjung ke Rumah Para Dewa

Oleh Tgl: February 17, 2014
Salah satu spot terbaik di Dieng

Jika Semeru disebut pakunya bumi maka Dieng dinamai tempat bersemayamnya para dewa. Mungkin karena letaknya di ketinggian dengan hawa dingin dan pemandangan yang damai menyerupai khayangan.

Dataran Tinggi Dieng terletak di Jawa Tengah, sekira empat jam dari kota Jogjakarta. Makanya seringkali Dieng dijadikan satu rangkaian trip dengan tempat-tempat wisata lain di Jawa Tengah misalnya Candi Prambanan di pertengahan antara Solo dan Jogakarta, Candi Borobudur di Magelang dan selanjutnya Candi Cetho dan Sukuh di Solo.

Selain karena lokasinya cukup berdekatan kaitan historis dan relasi budaya membuat destinasi-destinasi wisata ini menjadi menarik untuk dirangkai bersama. Terutama turis luar negeri yang berkunjung ke Jogjakarta selalu menyempatkan diri bermain ke Dieng. Apalagi penyuka olahraga climbing menjadikan gunung-gunung di Dieng sebagai salah satu destinasi wajib untuk didaki seperti Gunung Sindoro (3.150 mdpl) dan Gunung Sumbing (3.371 mdpl).

Puncak Gunung Sumbing memiliki pesona pemandangan yang sangat menakjubkan, hamparan taman edelweiss membentang seolah menjanjikan keabadian bagi yang memandangnya. Gunung Sumbing ini tidak hanya menarik bagi penikmat pendakian tapi juga orang-orang yang senang mencari ‘ilmu’.

Namun bagi yang belum kurang menikmati olahraga mendaki, ada sebuah tempat dimana kita bisa menyaksikan pemandangan gunung-gunung ini—tidak hanya Sumbing dan Sindoro saja tetapi juga beberapa puncak tertinggi di Jawa seperti Merapi dan Merbabu, tempat itu adalah Bukit Sikunir (2300 mdpl).

Pemandangan dari puncak Sikunir

Pemandangan dari puncak Sikunir

Surga di 2300 mdpl

Perjalanan menuju Bukit Sikunir tidaklah semenegangkan ketika kita melakukan pendakian gunung yang sesungguhnya. Harus membawa peralatan ini itu, bekal yang banyak, persiapan mental dan fisik yang kuat untuk menghadapi trek yang kejam. Tentu saja tidak.

Perjuangan yang sebenarnya dibutuhkan untuk mendaki Bukit Sikunir adalah bangun pagi-pagi sebelum subuh, melawan beku yang memerkosa urat tulang (mengingat suhu terendah di Dieng bisa mencapai minus lima derajat celcius!).

Waktu tempuh pendakian hingga sampai ke Bukit Sikunir antara 45 menit- 1 jam, tidak begitu sukar apalagi buat yang biasa olahraga dan punya hobi hiking. Jam 04.00 adalah waktu yang pas untuk memulai pendakian dari Telaga Cebong, kaki Bukit Sikunir.

Soalnya banyak juga yang sengaja berkemah di puncak bukit demi menyaksikan pemandangan setumpuk surga yang membentang di awan-awan. Jadi jangan sampai kehabisan spot. Saat saya dan teman-teman sudah berhasil mencapai puncak bukit, sudah banyak orang yang sudah terlebih dulu sampai. Beberapa tenda warna-warni juga sudah berdiri tegak.

Bukit Sikunir memang menjadi tempat favorit untuk menyaksikan pemandangan gunung-gunung tinggi Jawa. Orang-orang menyebutnya golden sunrise tapi saya menamainya tumpukan surge di 2300 mdpl.

Sukar buat saya mendeskripsikan keindahan alam yang saya lihat lewat kata-kata yang terbatas. Sinar oranye menyembul dari Gunung Sindoro yang lamat-lamat membentuk bundar keemasan. Barisan awan bercampur kabut di puncaknya. Ketika langit semakin terang, gunung-gunug yang lain mewujudkan kegagahannya.

Barisan perbukitan, bersama hamparan sawah. Seorang atheis akan berbalik mempercayai Tuhan begitu melihat kecantikan ini. Alam tidak mungkin bisa melukisnya dirinya sendiri sedemikian mega. Jika sebab akibat memang ada tetap saja butuh tangan untuk meramunya.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna

Candi Arjuna sampai Anak Gimbal

Bukit Sikunir tidak menjadi satu-satunya tempat menarik yang bisa dikunjungi di Dieng. Masih ada Komplek Candi Arjuna yang merupakan candi tertua bercorak Hindu peninggalan abad ketujuh di Jawa Tengah—candi tertua setelah Prambanan, Borobudur, Sukuh kemudian Cetho.

Ada lima candi yang berada di Komplek candi Arjuna yakni Candi Arjuna—yang paling besar kemudia di depan Candi Arjuna ada Candi Semar kemudian Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada.

Selain kelima candi ini masih ada Candi Setyaki, Candi Gatot Kaca, Candi Bima dan Candi Dwarawati yang berada diluar Komplek Candi Arjuna. Konon menurut cerita, kenapa Candi Bima berada di luar karena sifatnya yang pongah dan merasa diri jagoan.

Selain dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan agama Hindu, Komplek Candi Arjuna juga tempat berlangsungnya upacara adat anak gimbal. Jadi di Dataran Tinggi Dieng ini banyak keluarga yang memiliki anak gimbal.

Anak gimbal menurut cerita bukanlah anak biasa. Kata-katanya kalau anak gimbal marah bisa terjadi sesuatu yang mengerikan. Ini semacam gift—kekuatan yang membawa kutukan juga. Namun gift ini tidak selamanya menguntit si anak, akan tiba saatnya kekuatan itu akan hilang ketika si anak meminta sesuatu kepada orangtuanya dan itu harus dipenuhi.

Upacara pelepasan kekuatan si anak ditandai dengan pengguntingan rambut gimbal. Setelah rambutnya digunting, rambut gimbalnya tidak akan tumbuh lagi dan kekuatannya pun akan lenyap. Menurut ritualnya, setelah rambut digunting, rambut akan dibuang ke Telaga Warna. Upacara ini biasanya diadakan setahun sekali pada bulan Juli.

Kuliner khas Dieng-Wonosobo

Kuliner khas Dieng-Wonosobo

Purwaceng Bikin Ngaceng

Mie Ongklok adalah menu yang wajib dicoba ketika mengunjungi Dieng. Mie ini banyak kita temui di seputaran Kota Wonosobo Sekilas mirip mie godok jawa tapi rasanya lebih manis dengan kuah jauh lebih kental. Harganya cukup ramah, Rp. 5000 seporsi. Yang lumayan mahal itu sate sapinya Rp. 12.000.

Sebagai oleh-oleh selain keripik kebanyakan ada juga penganan khas Dieng yang kerap dijadikan oleh-oleh yakni Carica. Sejenis papaya mungil yang dijadikan manisan. Rasanya gurih, kenyal dengan sedikit rasa asam.

Hawa dingin di Dataran Tinggi Dieng memang merutuk sampai tulang. Saya masih ingat jelas ketika kami baru sampai di Terminal Bis Wonosobo menunggu angkutan mencapai Dieng. Ketika itu masih pagi, langit masih gelap, suasana sekeliling Terminal Wonosobo tertutup kabut. Kami bisa saling melihat uap nafas kami menari-nari dan merasakan gemeretuk gigi yang disuarakan teman lainnya.

Minus lima derajat celcius adalah suhu terendah di Dieng. Saat saya dan teman-teman kesana suhu tidak segila itu namun dinginnya memerkosa sampai ke tulang. Bila sudah begitu minuman penghangat adalah obat mujarab.

Dan minuman penghangat di sini bukan sekadar penghangat biasa tapi juga bisa ‘menghangatkan’ yang lain. Namanya purwaceng atau kerennya ‘viagra jawa’ yang katanya kalau minum ini  bisa ngaceng semalaman.

Purwaceng adalah tanaman herbal sejenis akar-akaran yang banyak dijumpai di dataran tinggi terutama Dieng

Purwaceng adalah tanaman herbal sejenis akar-akaran yang banyak dijumpai di dataran tinggi terutama Dieng

Purwaceng adalah tanaman herbal sejenis akar-akaran yang banyak dijumpai di dataran tinggi terutama Dieng. Konon katanya raja-raja Jawa mengonsumsi ini untuk penambah tenaga. Dan di abad modern ini purwaceng diracik lebih variatif, ada purwaceng kopi maupun purwaceng susu.

Saya sempat menyeruput sedikit punya teman saya, rasanya seperti jamu dengan efek hangat di tenggorokan dan perut. Segelas purwaceng bisa dibeli mulai dari harga Rp 5000 – Rp. 10.000. Harga yang bersahabat untuk sebuah kehangatan.

Di akhir perjalanan kami, sambil menikmati kentang goreng dan ‘viagra jawa’ teman laki-laki saya berkomentar, betapa kompletnya surga yang ditawarkan Dieng. Saya menanyakan alasannya, dia menjawab nakal, “Surga langit dan bumi tersedia di sini.” Yah, tentu saja kalau kamu punya seseorang sebagai rekanan…(T. Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *