Bali yang (Kurang) Romantis

Oleh Tgl: February 10, 2014

Bali mungkin tidak akan menjadi pilihan saya menghabiskan bulan madu. Masalahnya, saya terlalu egois dan Bali terlampau ramai. Pemandangan yang tersaji jadi tidak begitu berasa lagi ketika dinikmati secara keroyokan.

Namun saya tidak akan menyangkal kalau Bali punya daya pikat luar biasa. Ya pantainya, tempat hiburan malamnya, puranya yang unik. Hmmm…siapa yang mau melewatkan setting sedemikian tanpa seseorang di sebelahnya? Saya saja jadi mellow sendiri karena cuma bisa gigit jari ketika orang-orang di sekitar saya bergandeng tangan atau bergelayut mesra di bahu pasangan (teman tidurnya).

Bule, pura, eksotis adalah kata-kata yang terlintas di benak beberapa teman bila mengingat Bali. Berbeda dengan saya yang lebih memilih kata free—bebas. Sebab Bali memberikan kebebasan kepada wisatawan untuk menikmati Bali seutuhnya. Wajar jika wisatawan luar menjadikan Bali sebagai rumah keduanya.

Mereka bisa memindahkan adat mereka di negeri sana ke Bali. Busana minim nan tipis dan botol bir dalam genggaman. Tidak ada yang aneh, bila kamu menyusuri Kuta dengan hanya mengenakan bikini yang dibalut kain panjang di pinggang. Atau buat laki-lakinya, bertelanjang dada dan celana pendek yang menonjolkan tulang kemaluan. Semua menjadi biasa di Kuta.

Bahkan bila kamu tidak berdandan demikian justru terlihat aneh di sana. Gaya berpakaian “seadanya” sudah menjadi wajar di Bali dan ini berlaku untuk wisatawan dalam negeri juga. Cerita-cerita pertemuan sehari di Bali kemudian menjadi pasangan selama di sana tentunya adalah cerita yang biasa kita dengar. Dan saya akan terdengar skeptis kalau mengatakan banyak juga pasangan selingkuhan yang menjadikan Bali sebagai destinasinya.

Di Bali-Kuta setiap hari adalah bersenang-senang. Kuta akan menampakkan wajah yang sebenarnya pada malam hari. Dimana musik terdengar di sepenjuru jalan. Gadis-gadis berpakaian seksi menawarkan paket murah minum di kafenya. Ajakan untuk menggoyang lantai dengan musik yang bingar. Pelukan, ciuman, kerlingan mata bule-bule yang mabuk sambil berjoget di pinggir jalan menyenandungkan—menjadi kelucuan tersendiri bagi saya.

Yang uniknya, bagaimana sebuah kebebasan bisa berdampingan dengan adat yang begitu ketat tanpa saling bersinggungan satu sama lain? Atau jangan-jangan adat diciptakan sebagai pelengkap wisata? Cerita-cerita mistik, takhayul-takhayul, bukankah sesuatu yang misteri itu mengusik rasa penasaran orang?

Suasana di Pantai Kuta

Suasana di Pantai Kuta

 Istimewanya Bali

“Pantai-pantai di Sabang jauh lebih menarik ketimbang Pantai Kuta,” teman saya pernah berkomentar demikian di suatu masa yang lalu. Dan pada akhirnya saya membuktikan keberanan dari ucapannya.

Saya berharap saya tidak digebuki orang-orang yang mencintai Bali ketika saya mengatakan Kuta hanyalah bentangan pasir dengan ombak yang dihiasi oleh manusia-manusia setengah telanjang. Dimana ada aktifitas mengepang rambut dan membuat tato temporary di sana. Itu yang membuat Kuta menjadi berwarna. Bila dibandingkan dengan pantai-pantai di Sabang, Pantai Kuta tidak ada apa-apanya.

Tapi begitupun, Bali tetap menjadi daya tarik wisata di Indonesia. Buat orang-orang kebanyakan, berhasil menginjakkan kaki di Bali adalah kebanggaan. “Karena semua orang pernah ke Bali jadi saya pun harus ke Bali,” mungkin itu sebagian isi pikiran mereka. Menjadi sebuah kewajiban ketika semua orang melakukannya sedang kita tidak.

Semacam ada prestise tersendiri ketika meng-upload foto dengan background Bali di display picture Blackberry atau Facebook. Entahlah, mungkin karena Bali adalah simbol. Indonesia itu Bali. Makanya ada orang luar yang mengatakan, “Indonesia itu dimananya Bali?”

Sesajen yang sering kita jumpai di jalanan

Sesajen yang sering kita jumpai di jalanan

 Senja yang Dibagi

Unik sih, ketika melihat di sudut-sudut jalannya ada sesajen. Dan bagaimana orang-orang yang lewat lalu-lalang menjaga sekali untuk tidak menyenggol sesajen tersebut. Perempuan-perempuan dengan kain dan kebaya, hampir di segala tempat terhirup aroma dupa,  pura-pura yang kuno, segalanya benar-benar otentik.

Belum lagi beberapa tempat yang memang patut di “wow” kan. Sebut saja Tarian Barong, Tari Kecak, patung Garuda Wisnu Kencana, Pura di Tanah Lot, Tanjung Benoa dan lain-lainnya. Bikin praktisnya lagi, wisatawan tidak perlu dipusingkan dengan rutenya. Karena sudah banyak paket menarik dengan beragam pilihan spot yang ditawarkan sesampai kita di Bandara Ngurah Rai.

Biro-biro perjalanan wisata setempat yang bisa kita temukan di seputaran Kuta juga menawarkan paket serupa. Harga yang variatif—mulai dari Rp.300.000-an dan tidak terlalu mahal membuat paket-paket ini menjadi incaran turis-turis yang mau gampangnya saja. Dengan kemudahan yang sangat itu, kita bisa saja langsung datang ke Bali tanpa perlu meng-googling terlebih dahulu.

Bali memang indah. Saya sepakat. Apalagi ketika saya mengunjungi Tanah Lot. Keindahan pura-pura di sana, bagaimana bisa terbangun di antara celah-celah karang. Dan sunset yang luar biasa indah. Langit yang kuning kemerahan bersanding dengan pura, adakah pemandangan yang lebih cantik dari ini?

Setiap orang yang membawa pasangannya bergenggaman tangan atau saling memeluk sembari menyaksikan matahari tenggelam. Namun pemandangan yang istimewa ini menjadi tidak istimewa karena terlalu ramainya orang yang datang ke sana.

Bukankah sesuatu menjadi istimewa ketika dia menjadi milik kita sendiri? Sesuatu dianggap spesial ketika dia ditempatkan di ruang yang privasi, bukan umum. Ah, saya jadi paham kenapa Sukab dalam cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karyanya Seno Gumira Ajidarma mencuri senja. Karena senja yang dinikmati beramai-ramai tidaklah romantis lagi. (T.Alur)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *