Waspada, Ritual Bobol Bank Jelang Pemilu

Oleh Tgl: December 3, 2013
bank

JAKARTA – Pengamat kebijakan publik, Ikhsanudin Noorsy meyakini modus pembobolan bank menjelang pemilu tidak bakal terjadi pada pemilu 2014, karena cara ini sudah terbaca. Justru meminta pihak-phak terkait mewaspadai penyelewengan dana optimalisasi yang sudah diketok DPR jumlahnya mencapai Rp6 triliun lebih.

Dalam sebuah wawancara di sebuah televisi swasta, Ikhsanudin mengakui bahwa pembobolan bank menjelang pemilu sudah menjadi semacam ritual. Sementara Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto mengkhawatirkan potensi kebocoran dana besar-besaran di sektor perbankan menjelang Pemilihan Umum 2014.

Dalam tiga pemilihan umum terakhir, kata Bambang, selalu terjadi fenomena ini. Ia menduga dana perbankan disalurkan ke partai tertentu untuk mengongkosi transaksi-transaksi politik terkait pemilihan.

“Sebentar lagi siklusnya kembali datang,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran Indeks Persepsi Korupsi di kantor Transparency International Indonesia, kemarin.

Bambang menuturkan, pada 1998, sebelum Pemilihan Umum 1999, terjadi kasus penyelewengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Dari sekitar Rp600 triliun dana yang mengucur lewat program itu, Rp160 triliun tak jelas peruntukannya dan hingga kini harus ditanggung rakyat.

Menjelang Pemilihan 2004, sejumlah bank, termasuk BNI 1946, kembali dijebol. Adapun di akhir 2008, kasus Bank Century mengemuka.

Menurut dia, ada banyak cara untuk diam-diam menggarong sektor perbankan. Bambang mengatakan salah satu yang perlu diwaspadai ialah rencana pencetakan uang kertas tak lama lagi. Selain itu, kata dia, ada juga rencana pencetakan uang baru.  (***)

 

 





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *