Sangat Mungkin Rupiah Tembus Level 13.000/US$

Oleh Tgl: December 1, 2013
rupiah2

JAKARTA – Analis memperkirakan rupiah sangat mungkin menembus level Rp 13.000 terhadap dolar AS, jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan tepat, apalagi belakangan kecenderungan masyarakat cenderung memegang dolar sebagai investasi.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto mengungkapkan bila orang menilai investasi menggunakan dolar menarik maka tentu orang akan berbondong-bondong menaruh uang ke dolar Amerika Serikat.

Hal sama juga diungkapkan Kepala Riset PT Bahana Securities, Harry Su. Ia menuturkan, ada perkiraan rupiah dapat tembus ke level 13 ribu per dolar AS. Dan atas perkiraan tersebut, saat ini investor asing pun cenderung wait and see.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat lewat intervensi pasar. Langkah itu diakui bank sentral akan mengurangi cadangan devisa Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan Jumat pekan lalu, rupiah ditutup Rp 11.965 terhadap dolar Amerika Serikat. Kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di level Rp 11.977.

Melemahnya rupiah ini sebenarnya mudah terbaca. Cukup mengikuti perkembangan cadangan devisa di Bank Indonesia (BI) dan mencermati perekonomian Indonesia, khususnya struktur ekspor dan impor.

Rupiah yang roboh atau melemah tak lepas dari neraca transaksi berjalan yang sudah berlangsung sembilan triwulan ini atau 27 bulan. Neraca transaksi berjalan yang defisit merupakan sebuah indikator bahwa pasokan dollar AS ke negeri ini bakal seret.

Defisit neraca perdagangan akan memastikan pasokan dollar  AS melemah. Semakin memprihatinkan lagi jika neraca modal juga melemah. Neraca pembayaran akan defisit. Cadangan devisa akan rentan.

Saat ini, cadangan devisa 96,966 miliar dollar AS. Pada Agustus 2011, cadangan devisa pernah mencapai 124 miliar dollar AS. Masa bonanza di mana ekspor komoditas dan sumber daya alam (SDA), seperti batubara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan bauksit, melambung. Sayangnya tidak ada langkah memperkuat struktur ekspor produk non-SDA. Akibatnya komposisi ekspor produk non-SDA merosot dari 48 persen pada tahun 2005 menjadi 36 persen pada tahun 2013. (***)

 

 





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *