Putri Ikal Sembilan, KB dan Ledakan Penduduk

Oleh Tgl: November 6, 2013
putri ikal sembilan

BENGKULU – Melalui budaya asli suatu daerah setempat ataupun menyisipkan pesan moral lewat gerakan khas sebuah tari daerah bisa jadi cara baru yang cukup efektif guna mensosialisasikan sebuah program kepada masyarakat. Metode ini dipraktikkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk mengajak masyarakat ikut menyukseskan program keluarga berencana (KB).

Rabu, 6 November 2013 di lapangan Sport Centre di kawasan pantai panjang Bengkulu, siswa-siswi Kota Bengkulu menyuguhkan tarian khas yakni tari putri ikal sembilan. Guna menyemaraki agenda nasional BKKBN untuk mensosialisasikan program KB dan alat kontrasepsi terbaru yang aman, yakni inplan.

Menariknya, pertunjukan tari tersebut menceritakan kisah seorang gadis yang diperebutkan dua orang putra laki-laki. Yang satu bermodalkan ketampanan dan kekayaan, yang satu lagi bermodalkan program dan perencanaan ke depan. Pada akhirnya, sang gadis lebih memilih laki-laki yang bermodalkan program dan perencanaan. Diutarakan laki-laki tersebut niatannya untuk melamar sang gadis, akan tetapi ia hanya bermodalkan program, yakni program generasi berencana (genre), 2 anak cukup dan program KB.

Suguhan menarik dan berbeda tersebut sontak membuat Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah, S.Ag, M.Pd kagum. Dikatakan, tarian tersebut luar biasa, ternyata modal nekad dan ganteng tidak mampu menggaet seorang gadis. ”Tapi laki-laki yang punya program dan prestasi lah yang dipilih penari ikal sembilan, itu pesan moral dari tarian tersebut,“ kata Junaidi.

Junaidi menambahkan, jumlah penduduk mengalami peningkatan, tidak hanya terjadi di Provinsi Bengkulu, tapi nasional. Hal ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah pusat dan daerah. Tahun 2010 jumlah penduduk di Bengkulu sekitar 1,7 juta, sedangkan data agregate pada tahun 2012 jumlah penduduk mengalami peningkatan yang sangat signifikan, lebih kurang 2 juta penduduk.

”Kita harus ubat mainset, ini program kita brsama, alangkah indahnya kalau satu keluarga hidup rukun dan damai, kebutuhan gizi terpenuhi, sandang pangan papan tercukupi, pendidikan terpenuhi. Solusinya harus dikaji secara konfrehensif, bukan mengkaji berapa sawah lagi yang akan dicetak, tapi mengkaji jumlah manusianya,“ ungkap Junaidi. (gue)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *