Facebook, Internet dan Bencana Alam

Oleh Tgl: November 9, 2013
facebook

JENEVA – Daerah-daerah yang kurang mendapat akses informasi dan teknologi adalah yang paling menderita bila terkena bencana. Daerah tersebut  dengan fasilitas informasi kurang memadai akan terlambat mendapat bantuan.

Media-media sosial seperti facebook dan twitter berperan besar dalam penyebaran informasi sehingga dapat mencegah bencana yang lebih luas lagi.  Daerah dengan kesenjangan digital yang lebar akan sulit mendapatkan akses, dan pemulihan paska bencana.

Federasi Palang Merah Internasional IFRC mengatakan berkat revolusi digital, keberadaan beberapa teknologi baru bisa membantu orang mempersiapkan diri, selamat dan pulih dari bencana alam.  Tetapi IFRC mengingatkan bahwa akses atas teknologi ini masih sangat tidak seimbang.

Petugas teknologi informasi Palang Merah Sarmad Alsaffaj mengatakan apa yang disebut “kesenjangan digital” sangat lebar di negara-negara yang paling sering dilanda bencana alam, yang cenderung miskin.

Ia mengatakan kurangnya akses atas komunikasi modern meningkatkan keparahan bencana dan kemampuan orang untuk mengatasinya.

“Contohnya media sosial kini mulai menjadi media bagi para pekerja kemanusiaan untuk memperoleh informasi dari daerah-daerah yang dilanda bencana.  Masalahnya, mengandalkan informasi pada teknologi khusus ini membuat kita – secara tidak langsung – mengisolasi mereka yang tidak memiliki akses pada teknologi ini dan mereka yang tidak tersambung dengan teknologi ini,” kata Alsaffaj.

Statistik terbaru dari International Telecommunications Union ITU menunjukkan luasnya kesenjangan digital tersebut. ITU mendapati orang yang memiliki akses internet di negara-negara berkembang mencapai 31%, dibanding 77% orang di negara-negara maju.  ITU juga mendapati bahwa hanya 8% rumah tangga di Afrika yang punya komputer, dibanding 76% rumah tangga di Eropa.

Teknologi baru ini sudah membuat sumbangan berharga pada upaya pertolongan dalam bencana.  Sarmad Alsaffaj mengatakan warga lokal adalah yang paling bertanggungjawab menyelamatkan banyak nyawa dalam beberapa jam pertama yang menentukan setelah terjadi keadaan darurat.  Meskipun demikian ia mengatakan kepada VOA, banyak petugas tanggap darurat tidak punya akses pada teknologi dan informasi dasar penyelamatan jiwa.

“Kita harus memastikan bahwa kita tidak mengisolasi dan mengesampingkan mereka yang tidak memiliki akses pada teknologi.  Mereka yang tidak terhubung  pada teknologi harus tetap didengar.  Jadi meskipun kita – lewat laporan ini – mendorong penggunaan teknologi dalam upaya kemanusiaan, kita masih menekankan fakta bahwa kita seharusnya tidak mengesampingkan seluruh bentuk komunikasi lain dengan orang.  Komunikasi tatap muka masih tetap penting.  Bentuk lama pengumpulan informasi dari lapangan juga masih penting,” papar Alsaffaj.

Laporan ini juga menyampaikan kesimpulan informasi bencana alam dari tahun 2012.  Laporan ini menyatakan jumlah korban tewas dan orang yang terkena dampak bencana alam tahun 2012 lalu adalah yang terkecil dalam 10 tahun terakhir.  Namun upaya kemanusiaan dalam bencana alam pada tahun 2012 adalah yang termahal dalam 20 tahun terakhir.

Secara keseluruhan, laporan itu menyatakan 139 juta orang terkena dampak oleh 552 bencana alam dengan total biaya mencapai hampir 158 milyar dollar.  Bencana alam yang paling menelan banyak biaya kemanusiaan adalah topan Sandy dengan 50 milyar dollar.  Sementara topan Bopha di Filipina adalah yang paling mematikan, dengan korban tewas mencapai lebih dari 1.900 orang. (***)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *