Peringati Sumpah Pemuda, Ormas Bengkulu Gelar Demo

Oleh Tgl: October 28, 2013
demo

BENGKULU – Peringatan hari Sumpah Pemuda ke-85 di Kota Bengkulu diwarnai aksi unjuk rasa oleh gabungan organisasi kepemudaan yang mengatasnamakan diri “Cipayung Plus”,yang terdiri dari organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), BEDA, dan APM Cabang Bengkulu.

Unjuk rasa yang dikomandoi Chandra, Awang, dan Arif ini dilakukan di beberapa titik, antara lain di depan Kantor Polda, Kejati, dan berakhir di Bundaran Simpang 5 Kota Bengkulu. Para demonstran melakukan konvoi sambil menyerukan kalimat ‘revolusi’ dan ‘hidup pemuda’ untuk membakar semangat kepemudaan.

Dalam aksi ini, diangkat beberapa permasalahan, antara lain kasus eks. multiyers, PT. Bengkulu Mandiri, dan pembangunan Pasar Panorama Kota Bengkulu.

Pemerintah dianggap menutup mata dan menyembunyikan kebenaran. Telah terjadi begitu banyak penyelewengan dana yang hingga saat ini belum ada kejelasan dari ketiga kasus tersebut, dan hal ini sangat mendzolimi masyarakat banyak.

“Jika penyelewengan tidak pernah ada, yakin dan percaya tidak akan ada masyarakat yang mengemis di ujung jalan sana”, seru salah satu orator.

“Untuk itu kepada kejaksaan tinggi sebagai aparat hukum kami mohon untuk menegakkan hukum yang seadil-adilnya, membasmi penjahat, membasmi pemerintah yang mendzolimi, serta pemerintah yang munafik dan biadab. Janji-janji manis pemerintah tidak ada buktinya”, tambahnya lagi.

Sekitar 30 menit berorasi di depan kantor kejaksaan tinggi, akhirnya diwakili delapan orang pemuda, mereka diterima di kantor kejati untuk secara langsung mengumandangkan aspirasi mereka.

“Kami meminta kejelasan dan transparansi terkait beberapa kasus seperti eks. multiyers, PT. Bengkulu Mandiri, dan pembangunan Pasar Panorama Kota Bengkulu, kemudian usut tuntas siapa saja yang terlibat dalam kasus ini supaya tidak menyebabkan kebingungan dan polemik di tengah masyarakat. Kami melihat adanya ketidaktegasan dari pemerintah”, jelas Arif, salah satu koordinator unjuk rasa saat diterima di kantor kejati.

“Kenapa sampai kasus ini menjadi berlarut-larut, karena penyusutannya memang tidak gampang. Dimohon kesabarannya, karena kasus ini memang sedang terus diusut. Kami terus mengumpulkan bukti-bukti”, jelas Marihot Silalahi, Kasi Intel Kejati.

Pertemuan itu diakhiri dengan pemberian surat kesepakatan dari “Cipayung Plus” yang berisi poin-poin penting permasalahan untuk kemudian ditindaklanjuti oleh pihak kejari. (Ran)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *