BI: Ekonomi Global Belum Kondusif

Oleh Tgl: October 31, 2013
bank indonesia

BENGKULU – Guna merespon dinamika ekonomi terkini, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan beberapa kebijakan melalui Rapat Dewan Gubernur, 8 Oktober 2013 lalu. BI mempertahankan BI Rate pada level 7,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility tetap pada level 5,50 persen dan 7,25 persen.

Selain itu, BI akan mencermati perkembangan perekonomian global dan nasional serta akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial. Untuk memastikan bahwa tekanan inflasi tetap terkendali, stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai kondisi fundamentalnya, serta defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang suistainable.

Terkait koordinasi antar otoritas, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan. BI meyakini bahwa kebijakan-kebijakan tersebut serta berbagai kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya akan mempercepat penyesuaian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dan mengendalikan inflasi menuju ke sasaran 4,5 ± 1 persen pada 2014.

Kebijakan ini diambil lantaran ekonomi global masih belum kondusif. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, pada saat pergelaran seminar bertajuk ”Perkembangan Terkini Perekonomian Indonesia dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia“, Kamis, 31 Oktober 2013.

Dikatakan, memasuki triwulan III 2013 pertumbuhan ekonomi melamban, harga komoditas menurun dan ketidakpastian di pasar keuangan global yang masih tinggi. Kondisi global tersebut mempengaruhi ekonomi Indonesia melalui jalur perdagangan dan jalur finansial.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2013 diperkirakan masih dalam tren menurun menjadi 5,6 persen (yoy) sehingga pada tahun 2013 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,8 – 6,2 persen. Di sisi lain, neraca pembayaran diperkirakan membaik, ditopang defisit transaksi berjalan yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang membesar.

Di samping itu, nilai tukar rupiah masih dalam tren melemah, Rp 10.652 per dollar AS, melemah 8,2 persen dibandingkan pada akhir Juni 2013. Kondisi terkini menunjukkan tekanan terhadap rupiah sudah mulai mereda sejak akhir September 2013.

Selaras dengan itu, tekanan inflasi nasional mereda terindikasi pada deflasi sebesar 0,35 persen (mtm) sehingga inflasi menjadi 8,40 persen (yoy) akibat koreksi harga pangan dan meredanya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi. Keseluruhan tahun 2013, inflasi nasional diperkirakan pada kisaran 9, 0-9, 8 persen.

Karenanya, seminar yang dihadiri pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, perbankan dan awak media massa ini diharapkan dapat memberi pemahaman terkait kebijakan moneter dan dapat mendukung optimalisasi pembangunan ekonomi daerah yang bersinergi dengan perekonomian nasional. (gUE)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *