Amerika Jatuh Miskin, Kelas Menengah Indonesia Naik 250%

Oleh Tgl: October 10, 2013
amerika

AMERIKA – Akibat didiera krisi berkepanjangan, jumlah orang miskin di Amerika terus berambah, terutama dari kalangan menengah dibanding tiga puluh tahun lalu. Bahkan kalangan atas Amerika tidak berada dalam wilayah aman, demikian Jimy Carter, mantan Presiden AS.

Jimmy Carter mengatakan kesenjangan pendapatan di Amerika Serikat telah meningkat ke titik di mana warga kelas menengah menyerupai orang miskin Amerika ketika ia duduk di Gedung Putih. Carter menyatakan hal ini di sela-sela kegiatan Habitat for Humanity, lembaga amal tempatnya berkiprah.

Perbedaan antara orang kaya dan orang miskin di Amerika, telah meningkat secara dramatis. “Kelas menengah telah menjadi lebih seperti orang-orang miskin daripada mereka 30 tahun yang lalu, ujar Carter. “Saya tidak berpikir kondisinya kini semakin lebih baik.”

Menurutnya, krisis ekonomi memukul AS sedemikian rupa sehingga banyak keluarga hidup tak menentu, tak terkecuali kaum kelas menengah. “Bahkan mereka yang tinggal di kawasan mewah seperti San Francisco Bay Area juga tidak aman secara ekonomi,” kata Carter.

Menurutnya, fenomena ini terjadi dengan sangat cepat dalam delapan tahun terakhir. “Bahkan di salah satu wilayah terkaya di dunia ini kini ditemukan banyak fenomena penyitaan properti. Dan mereka yang beruntung memiliki rumah berutang lebih banyak untuk mendapatkan rumah itu,” katanya.

Habitat for Humanity adalah sebuah nirlaba yang didirikan di Georgia, daerah asal Carter. Ia bergabung dengan organisasi ini sejak 1984. Organisasi ini bergiat antara lain dalam menyediakan rumah yang layak bagi kaum miskin AS. Tahun ini mereka mendirikan 12 town house dan mereparasi 112 rumah di seantero AS..

Sementara itu, situasi terbalik terjadi di Indonesia. Direktur Retail Banking PT Bank ANZ Indonesia Anthony Suwandy memaparkan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia justru bakal tumbuh pesat selama delapan tahun ke depan. Diperkirakan, masyarakat dengan pengeluaran rumah tangga di atas Rp 5 juta per bulan bakal bertambah hingga 250 persen.

“Jumlah populasi segmen ini yang sekarang 9,1 juta, bisa mencapai 23,4 juta jiwa di 2020 nanti,” ujar Anthony , pekan lalu. Secara spesifik, untuk kaum elite atau yang pengeluarannya diatas Rp 7,5 juta per bulan juga naik dari 2,5 juta jiwa menjadi 6,9 juta jiwa.

Ia memaparkan, data tersebut diambil dari hasil analisis Boston Consulting Group pada Maret 2013 lalu. Tidak hanya kaum elite, populasi kelas menengah atas dengan asumsi pengeluaran diatas Rp 3 juta per bulan juga melonjak dari 23,2 juta jiwa menjadi 49,3 juta jiwa.

Secara keseluruhan populasi kelas menengah hingga kaum elite pada 2020 mencapai 141 juta, jauh lebih tinggi ketimbang posisi saat ini yang sebanyak 74 juta.  (AP)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *