Warga Tuntut Hentikan Pembangunan Tower di Teras Masjid

Oleh Tgl: September 12, 2013
mesjid-tower

Kami merasa tertipu oleh panitia dalam proses pembangunan tower itu. Karena kebijakan yang di ambil oleh panitia tanpa sepengetahuan warga. Apalagi dokumen dukungan persetujuan yang ada di panitia merupakan hasil rekayasa (di palsukan) oleh mereka

H. M. Syaid

BENGKULU – Rabu (11/9) sekitar pukul 10.30 WIB. Puluhan perwakilan warga RT 02/03 Kelurahan Anggut Dalam Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu, mendatangai Kantor Walikota Bengkulu, untuk bertemu dengan Walikota H Helmi Hasan, SE. Mereka meminta kepada Pemkot Bengkulu, agar menghentikan pembangunan tower PT Telkomsel di teras depan Masjid Baitul Qudus, Angguta Dalam. Karena diduga, telah di komersialisasikan oleh panitia pembangunan Masjid Baitul Qudus, tanpa persetujuan dari jam’ah dan warga setempat.

Keributan hampir terjadi antara warga dan Satpol PP yang melarang warga yang mendesak untuk masuk keruangan walikota dan menemui walikota, karena walikota tak berada ditempat.

Perwakilan warga kemudian diterima Asisten II H. Fachuruddin Siregar diruangannya, yang juga hadir Kabag Humas Drs. Al Nizan, Kadis Tata Kota Ir. Sahlan Sirat, ME. Sedangkan dari perwakilan warga dan jam’ah diwakili oleh H. M. Syaid, mantan Imam Masjid Baitul Qudus dan Umran Husein serta anggota panitia pembagunan Masjid Mayudin, ST.

Dalam pertemuan itu, warga menuntut kepada panitia pembanguan Masjid Baitul Qudus untuk memberhentikan proses pembangunan Tower PT Telkomsel di halaman masjid tersebut, karena pembangunan telah di komersialisasikan oleh panitia tanpa persetujuan dari masyarakat setempat,.

“Kami merasa tertipu oleh panitia dalam proses pembangunan tower itu. Karena kebijakan yang di ambil oleh panitia tanpa sepengetahuan warga. Apalagi dokumen dukungan persetujuan yang ada di panitia merupakan hasil rekayasa (di palsukan) oleh mereka,” ujar mantan Imam Masjdi Baitul Qudus, H. M. Syaid.

Ditambahkannya, pembangunan tower itu hanya keputusan panitia saja, bukan keputusan masyarakat dan jam’ah masjid, Ditambah lagi, masyarakat yang setuju dan menanda tanggani persetujuan tersebut merupakan rumah yang tidak terkena dalam radius tower itu,

“Sedangkan warga yang rumahnya yang masuk dalam radius itu menolak untuk di bangun tower tersebut tidak di hiraukan. Kami terkejut, kok nama kami ada di dalam sana, sedangkan kami menolak untuk di bangunnya tower itu,” ungkapnya.

Sementara itu, panitia pembagunan masjid, Mayudin ST, membatah kalau pihaknya mengkomersialisasikan masjid, tetapi ini demi kemajuan rumah ibadah yang memerlukan dana untuk pembagunannya.

“Jadi ketika ada dari pihak perusahan PT Tekomsel menawarkan pendirian tower dengan harga Rp 25 juta/tahun dengan kontrak 11 tahun. Kami dari panitia dan pengurus masjid mengadakan rapat terkait hal itu,” ujar Mayudin.

Mayudin juga mengatakan, selain itu, banyak masyarakat mendukung pembagunan tersebut dengan membubukan tanda tanggan serta memberikan foto cofi KTP kepada panitia.

“ Karena kita di berikan wewenang untuk mengelola masjid tersebut oleh masyarakat, jadi yang kita putuskan merupakan keputusan masyarakat. Jadi, bukan kita tidak melibatkan masyarakat dalam hal mengambil keputusan, tetapi kita ini adalah wakil masyarakat dalam mengambil kebijakan pembagunan masjid, Contoh seperti DPRD dan Pemkot, ketika mengambil kebijakan tidak perlu harus semua masyarakat di libatkan,” jelasnya.

Setelah mendegarkan semua masukan dari pro dan kontra terhadap pembagunan tower tersebut, Asisten II memutuskan, supaya Dinas Tata Kota untuk melakukan cek lapangan terhadap permasalahan tersebut.

“Silahkan kepada dinas tata kota untuk melakukan cek lapangan atas laporan yang di sampaikan ini,” ungkap Fachuruddin

Sementara itu Kadis Tata Kota dan Pengawasan Pembagunan Ir. Sahlan Sirat, mengatakan, kalau pengeluaran izin tersebut sudah sesuai dengan prosedural yang berlaku dan sesuai dengan Keputusan tiga Menteri,

“Secara hukum sudah memenuhi persyaratan, maka kami mengeluarkan izin pendirian tower tersebut, Selain itu, pengecekan lapangan yang kita lakukan ,mereka sudah memenuhi proseduran yang berlaku,” ujar Sahlan.

Sementara itu, hasil penelusuran dilapangan, berbeda dengan apa yang disampaikan oleh panitia pembangunan ketika di Kantor Walikota.Karena ternyata tower tersebut akan di bangun di badan masjid (teras Masjid), bukan di halaman masjid, seperti yang di sampaikan oleh Panitia tersebut.

Disisi lain, dari penunturan Sri Raminah (40) warga  yang rumahnya ada di belakang masjid mengatakan, panitia memberikan amplop berisi uang sebesar Rp. 200.000,- untuk satu tanda tanggan.

“Saya tidak tahu kok nama dan KTP saya ada di dokumen pendukung mereka, Padahal saya tidak pernah setuju dengan pembagunan tower itu,” ujar Sri Raminah.

Terkait hal ini, Kadis Tata Kota dan Pengawas Pembagunan tidak mau berkometar banyak,

“Kami hanya menerima dokumen yang di berikan oleh pengaju saat mengeluakan izin,  selebihnya kalau ada peninjauan ulang kita lihat saja nanti,” ujarnya. (cw7)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:



Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *