Terus “Tekor”, Pengrajin Tempe Mogok Produksi

Oleh Tgl: September 8, 2013
tempe-darixtraordinaryz-bp

Sudah hampir dua mingguan lah, tidak berproduksi lagi. Mau tidak mau dengan berat hati produksi harus berhenti jika tetap berproduksi bukan untung yang di dapat malah rugi terus-terusan

Dedi

BENGKULU –  Dampak yang begitu terasa dari kenaikan harga kedelai adalah produsen, dengan harga yang mencapai Rp.9.000,-/kg pengrajin tahu dan tempe di Bengkulu terus menjerit.

Kenaikan harga kedelai yang terjadi dari beberapa pekan yang lalu ini masih belum dapat teratasi, Imbasnya nasib pengusaha yang mengandalkan komoditi kedelai untuk usahanya ini terancam gulung tikar.

Dedi (36) pengusaha tempe yang berproduksi di Jalan Salak Kelurahan Padang Nangka kota Bengkulu misalnya, lelah menjerit mahalnya harga kedelai mengharuskan dia memilih mogok produksi.

“Sudah hampir dua mingguan lah, tidak berproduksi lagi. Mau tidak mau dengan berat hati produksi harus berhenti jika tetap berproduksi bukan untung yang di dapat malah rugi terus-terusan,” paparnya saat di wawancarai wartawan bengkuluonline.com Minggu (8/9).

Dijelaskan Dedi saat ini usahanya terpaksa dihentikan sejenak sambil menunggu normalnya harga kedelai.

Dijelaskan Dedi, sebelum terjadi kenaikan harga, Dia biasa membeli kedelai dengan harga Rp 280.000/karung yang berisi 50 kg kedelai. Namun, saat ini sudah menembus harga Rp.490.000/karungnya.

“Perkarungnya itu, jumlah tempe yang dihasilkan berjumlah 250 potong dan dipatok dengan harga Rp 2000,-/potong dipasaran,” paparnya.

Jika saat ini harga kedelai Rp 490.000 ungkap Dedi,  selisih dari harga produksi hanya Rp 10.000,- itupun belum di tambah biaya produksi yang lain seperti plastik pembungkus dan sebagainya.

“Jadi bisa di katakan pengusaha tempe rugi alias tekor setiap akan memproduksi tempe,“ jelasnya lagi.(Cw8)

 

 

 

 

 

 

 





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *