Mengunjungi Masjid Tertua di Kabupaten Seluma

Oleh Tgl: September 9, 2013

Masjid ini dahulunya belum seperti ini. Namun dengan kedatangan orang Padang, masjid direhab kembali mirip gaya bangunan rumah adat Padang

Rifai

Masjid Al Jihad yang terletak di Desa Pasar Talo Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma merupakan salah satu masjid tertua di Bumi Serasan Seijoan. Masjid ini sudah berdiri ketika desa ini masih menjadi tempat transaksi perdagangan. Meski sudah berumur ratusan tahun, masjid ini masih berdiri kokoh dengan ciri khas bangunan yang masih tetap terjaga. Berikut liputannya.

KONON menurut cerita warga sekitar, Masjid Al Jihad sudah berdiri sejak tahun 1027 silam atau sudah berumur 986 tahun. Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, Masjid Al Jihad merupakan salah satu masjid bersejarah yang ada di Kabupaten Seluma. Masjid yang masih berdiri kokoh dan terawat ini dibangun dengan ciri khas bangunan Provinsi Sumatera Barat. Masjid berukuran cukup besar ini dikelilingi tembok sekitar 1,5 meter. Di bagian depan, tepatnya gerbang masuk masjid, dibangun gapura layaknya rumah Minang.

Gapura dengan ketinggian sekitar 5 meter ini bertuliskan huruf Arab, yang sepertinya memang belum lama dibangun. Ini dibuktikan dengan adanya tahun dan bulan pengerjaan. Di atas gapura tertera angka 11-03-2011. Bisa jadi ini menunjukkan tanggal pendirian gapura tersebut. Masjid Al Jihad pertama berdiri belum sebesar sekarang. Melainkan hanya bangunan kecil tempat para pedagang beribadah.

Tidak heran jika masjid ini dibangun untuk para pedagang beribadah. Mengingat sebelumnya Pasar Talo merupakan daerah yang menjadi pusat perdagangan zaman dahulu. Sama seperti halnya dengan Pasar Bawah Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) kala itu. Serta Desa Pasar Ngalam yang ada di Kecamatan Air Periukan Kabupaten Seluma. Konon masjid ini sudah berdiri, sebelum Pasar Talo menjadi pusat perdagangan sebelum masa penjajahan dahulu kala.

Menurut cerita dari narasumber H. Rifai yang merupakan penduduk asli Pasar Talo, Masjid Al Jihad dibangun oleh Ajimutahit. Cikal bakal pembangunan masjid yang dilakukan oleh Ajimutahit kemudian diteruskan oleh penduduk Padang yang kerap pergi ke pasar. Masjid ini dijadikan para pedagang untuk beribadah.

Diakui Rifai, sebelum kedatangan penduduk Padang, Masjid Al Jihad belum seperti saat ini. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya pedagang yang beribadah di masjid ini, masjid terus dibenahi dan direhab. Karena mayoritas yang merehab pedagang dari Padang, tidak heran ini bangunan masjid menyerupai rumah adat Minang. “Masjid ini dahulunya belum seperti ini. Namun dengan kedatangan orang Padang, masjid direhab kembali mirip gaya bangunan rumah adat Padang,” tutur Rifai. (**)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *