Menderita Microcephalus, Umur 7 Tahun Bobot Hanya 7 Kg

Oleh Tgl: September 8, 2013
real.

Kalau sedang tidak punya uang, kami pinjam dengan koperasi, kadang dengan warga sekitar sini

Meri

SUKARAJA – Keceriaan dan kebahagiaan seakan menjauh dari kehidupan Dea Lorena (7), buah hati pasangan Bambang Irawan (30) dan Meri Sukarni (27) warga Desa Padang Pelawi Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Tidak ada canda tawa dan senyum bahagia di wajah bocah ini, karena sejak 3 tahun terakhir penyakit microcephalus yang menderanya berujung pada penyakit-penyakit lainnya. Seperti disentri, infeksi paru-paru dan juga saluran pencernaan, yang membuatnya tidak bisa makan dan minum secara optimal.

Ia bahkan diwajibkan mengkonsumsi obat setiap hari tanpa henti. Hal ini dilakukan berdasarkan saran dokter yang menanganinya. Kini memasuki umurnya yang ke-7, keadaan Dea semakin memprihatinkan. Tubuhnya sangat kurus bahkan tinggal tulang yang berbalut kulit, nafasnya sesak dan mendengkur karena lendir yang terdapat disaluran pernapasannya.

Tidak hanya itu, akibat infeksi saluran pernafasan serta pencernaan yang menderanya, perut bocah mungil ini juga membengkak. Tulang punggungnya tidak tumbuh dengan sempurna dan mulai membengkok sehingga menyebabkan tubuhnya tidak bisa ditegakkan lurus. Kepalanya yang kecil menambah rasa iba, karena dengan raut wajah polos dan pandangan kosong membuat setiap orang yang mengunjunginya tidak bisa menahan sesak karena iba dengan keadaannya.

Meski demikian, Ibu Dea, Meri (27), tetap telaten merawat anak Sulungnya. Tidak ada harapan lain terlontar dari mulutnya, kecuali Dea bisa disembuhkan bagaimanapun dan apapun caranya. Namun keinginan itu terkendala dengan kondisi ekonomi keluarga. Suami yang berkerja sebagai penyedap karet tidak sanggup membiayai semua keperluan pengobatan anak mereka.

Berbagai upaya pun telah mereka kerahkan, bahkan terkadang dengan harus meminjam uang kesana kemari demi untuk membeli obat untuk Dea. “Kalau sedang tidak punya uang, kami pinjam dengan koperasi,  kadang dengan warga sekitar sini,” kata Meri. Ditambahkan, pemerintah melalui dinas Sosial telah memberikan bantuan untuk Dea, namun bantuan tersebut tidak dapat menutupi seluruh biaya pengobatan Dea. Karena meskipun memiliki jamkesda, berbagai macam obat yang harus ditebus terkadang malah tidak tercantum didaftar sehingga mengharuskan pihaknya membeli obat diapotik dengan harga yang tinggi.

Meri berharap suatu saat nanti bisa membawa anaknya berobat ke rumah sakit luar Kota Bengkulu yang mempunyai alat-alat lebih canggih sehingga anaknya bisa disembuhkan. Juga berharap pemerintah serta para darmawan dapat memberikan batuan kepadanya guna mengobati buah hati Bambang dan Meri. (cw10)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *