Petani “Ogah” Tanam Kedelai

Oleh Tgl: August 31, 2013

Sejak awal saya sampaikan memang perlu tambahan lahan untuk kedelai paling tidak 500 ribu hektar. Karena dulu saat kita swasembada luas lahan kedelai itu sampai 1,5 juta hektar, sekarang kan tinggal 700 ribu hektar. Mau tidak mau, petani harus diberikan akses lahan baru

Suswono

Jakarta – Menteri Pertanian Suswono menjelaskan petani kurang tertarik menanam kedelai karena harga jualnya kurang menguntungkan jika dibandingkan menanam tebu, padi, ataupun jagung.

Hal itu mengakibatkan produksi dalam negeri kedelai terus mengalami penurunan sehingga menurutnya perlu segera dilakukan impor kedelai dalam jumlah yang lebih besar agar stok kedelai hingga akhir tahun ini bisa mencukupi.

Kementrian Pertanian tambah Suswono tengah mengupayakan perluasan tambahan lahan untuk kedelai. Suswono menyarankan Badan Urusan Logistik (Bulog) perlu lebih optimal sebagai penyangga pasar kedelai dalam negeri sehingga petani bisa lebih bergairah menanam kedelai.

“Sejak awal saya sampaikan memang perlu tambahan lahan untuk kedelai paling tidak 500 ribu hektar.  Karena dulu saat kita swasembada  luas lahan kedelai itu sampai 1,5 juta hektar, sekarang kan tinggal 700 ribu hektar. Mau tidak mau, petani harus diberikan akses lahan baru. Sekarang ini dengan harga Rp 7 ribu per kilogram, seharusnya petani sudah harus bergairah. Tetapi Bulog belum berbuat optimal untuk pasar kedelai, kalau bisa menjadi penyangga ini akan menjadi menarik buat petani,” kata Mentan Suswono, Jumat (30/8).

Seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar,  harga kedelai di berbagai daerah sudah tembus Rp 9.000/Kg, padahal harga normalnya berkisar Rp 7.700-8.000/Kg.

Tentu ini mengakibatkan para perajin tahu dan tempe menjerit karena harga kedelai yang melambung tinggi itu. Kenaikan harga kedelai yang terjadi di hampir seluruh daerah ini memicu berbagai aksi protes dari para produsen tahu dan tempe.(VoA)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *