Pungutan Liar Jadi Alasan Walikota Tahan Pedagang

Oleh Tgl: July 9, 2013

Pokoknya suami saya harus dilepaskan (Dengan Nada yang keras), Kami bukan teroris kami hanya minta hak kami, jangan ditahan-tahan, kami minta dikeluarkan suami saya yang ditahan dari semalam

Fatimah

BENNGKULU,JB- Kebijakan Walikota untuk merelokasi pedagang dari pasar subuh ke Pasar barukoto menjadi episode panjang pasalnya usai demo di depan Polres Bengkulu, Pedagang juga gelar unjuk rasa di halaman depan kantor Walikota menenutut pembebasan pedagang ynag ditahan oleh Polres.

Unjuk Rasa yang bergulir pada, Selasa (9/7) pukul 13.00 wib ini tidak anarkis sebab dikawal tetap oleh pihak kepolisisan dan stapol PP, sama seperti tuntutan di Polress mereka kembali meminta suami dan rekan mereka berdagang dibebaskan dan diberikan kesempatan untuk tetap berdagang di pasar Subuh itu.

Karena dituding sebagai provokator, mengadakan pemungutan liar dan salah satu pedagang kedapatan membawa senjata tajam.
Sebanyak 15 pedagang di Pasar Subuh diamankan pada Selasa dini hari oleh pihak kepolisisan, Mereka yang ditahan antara lain Ketua Pedagang Pasar Subuh Edi Hendra, Sekretaris Helma dan koordinator pedagang Hanafi serta beberapa di antaranya merupakan pentolan pedagang di Pasar Subuh.

Fatimah yang suaminya ditahan misalnya berteriak keras didepan kantor walikota meminta suaminya Hasan dibebaskan.

“Pokoknya suami saya harus dilepaskan (Dengan Nada yang keras), Kami bukan teroris kami hanya minta hak kami, jangan ditahan-tahan, kami minta dikeluarkan suami saya yang ditahan dari semalam,”Ungkap Fatimah.

sementara itu, pedagang sate dipasar subuh, Lina mengungkapkan tindakan walikota tidak memikirkan kehidupan mereka apalagi dilakukan saat jelang Ramadhan dimana menjadi puncak permintaan barang ynag mereka tawarkan meningkat dan waktu yang tepat untuk mengumpulkan sedikit uang demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga dan anak.

“Kami dak pacak makan, kami ini butuh hidup mbak bukan cari kekayaan, anak kami mau makan, mau sekolah, seharusnya pak wali mikir, kalau mau tahu mbak pas mau pemilihan nyogok dengan kami pedagang pasar subuh, dulu ngecek kalau no satu dipilih insyaallah pasar subuh tidak dipindah, mano janjinyo, kalau sekarang kami dak pacak dagang, barang kami jadi terbuang percuma, itu kalau mau dipikir,”Ujarnya kepada Jurnalis Jb.

Sementara itu, Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan menilai penahanan beberapa pedagang di Pasar Subuh oleh petugas Kepolisian Resor Bengkulu bukan merupakan tindakan represif melainkan tindakan penegakan hukum yang dilakukan oleh petugas karena pedagang melakukan pemugutan liar dan bertindak seperti tidak ada aturannya.

“Itu bukan tindakan represif kita ini ada aturannya, aturan itu harus diterapkan Kalau tidak maka akan menjadi sebuah daerah yang kacau balau, yang represif itu mereka yang bakar-bakar kemarin dan bawa golok untuk mengancam,”ungkapnya.

Senada dengan walikota, Kabag Humas Pemda Kota Bengkulu, Alnizan Mengungkapkan penahanan oleh pihak kepolisian dikarenakan maraknya pungutan liar yang berlaku dipasar subuh, dan terindikasi ada factor provokator pedagang untuk tidak mau pindah dipasar barukoto dengan alasan tidak bias melakukan pungutan lagi.

“Kemarin mereka itu mau pindah, namun karena ada provokator, jadi ya beginilah. Dipasar subuh itu ditemui ada pungutan liar, inilah itulah yang harus dibayar pedagang, padahal kalau pindah dipasar Barukoto itu tidak ada pungutan, tidak ada uang keamanan, uang listrik digratiskan, Kami Pemda ingin memberikan yang terbaik disana tempatnya bersih dan teduh, apalagi pembeli diarahkan untuk berbaelanja disana,”Ujarnya, Selasa malam pukul 21.30 wib.

Sementara itu, Kapolres Bengkulu AKBP Iksantyo Bagus Pramono mengatakan para pedagang tetap akan melalui proses penyidikan pihak yang berwajib.

“Semuanya akan kami proses melalui penyidikan dulu, kan ditangkapnya baru malam tadi. Kalau tidak bersalah akan kami bebaskan,”Tukasnya.(Cy*)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *