Presiden Percepat Perubahan Semua IAIN Jadi UIN

Oleh Tgl: July 23, 2013

Subsistem itu dibangun melewati proses dan tahapan yang harus dilalui. Saya telah mengamanahkan pada Mendikbud untuk melakukan percepatan

Susilo Bambang Yudhyono

Jakarta – Presiden mengakui, sejak Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) diubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), terjadi kemajuan yang signifikan. Presiden telah meminta Mendikbud untuk mempercepat perubahan status semua IAIN dan STAIN menjadi UIN secepatnya.

“Subsistem itu dibangun melewati proses dan tahapan yang harus dilalui. Saya telah mengamanahkan pada Mendikbud untuk melakukan percepatan,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya saat menerima Forum Rektor Perguruan Tinggi Islam, di Istana Negara, Selasa (23/7) pagi.

Jika ada kekurangan, jangan ditunggu terlalu lama. “Proses harus dibantu dan diperbaharui sehingga terjadi percepatan,” Presiden SBY menambahkan. Presiden juga berpesan kepada Mendikbud dan Menteri Agama agar anggaran yang dikelola digunakan sebaik-baiknya dengan pengeluaran berbasis prioritas.

Presiden bercerita, saat melawat ke Pakistan menyempatkan diri berkunjung ke perguruan tinggi yang banyak mahasiswa Indonesia di sana. Kalau ada apa-apa, kita selamatkan WNI kita. “Tugas kita adalah menyelamatkan dan evakuasi,” ujar SBY.

Pemerintah pernah mengevakuasi seribu orang lebih dari Mesir dan Tunisia, sebagian adalah pelajar dan mahasiswa yang belajar Islam. “Jangan dikorupsi anggarannya, sehingga kita dapat ilmu, bukan keburukan yang terjadi negara-negara itu,” SBY menjelaskan.

Soal pengurusan visa untuk belajar agama di negara Islam, yang juga ditanyakan dalam pertemuan dengan Forum Rektor PT Islam ini, Presiden SBY mengimbau untuk tidak memproduksi ektrimisme baru di Indonesia. “Mari selamatkan dengan cara meningkatkan kualitas lembaga-lembaga yang bapak ibu pimpin. Waktu di Universitas Al Azhar, Mesir, saya memberi dukungan kepada anak-anak kita untuk pulang dan menjadi cendekiawan dan tokoh islam,” kata SBY.

Soal tindak kekerasan dan perusakan yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan Islam, SBY menuturkan hal itu juga pernah ditanyakan seorang tokoh Islam dari Timur Tengah. Saat itu utusan tersebut meminta pemerintah melarang karena dapat merugikan Islam dan Arab.

“Itu merugikan dua hal. Satu merugikan Islam, Islam tidak begitu. Kedua, merugikan Arab, karena menggunakan pakaian Arab. Ini true story bapak ibu,” Presiden menuturkan. SBY berharap, hal seperti itu tidak terjadi lagi, salah satunya melalui pembekalan kepada anak-anak bimbingan di perguruan tinggi Islam.

Presiden juga berterima kasih telah mendapat nota karena jajaran universitas Islam bersih dari radikalisi. “Bimbinglah umat kita. Tunjukkan pada mereka ajaran-ajaran sesuai Islam. Memang tidak dilarang ulama berbicara politik, tapi kami lebih menginginkan ulama lebih membimbing umat,” kata Presiden SBY. (yor)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *