Masyarakat Harus Berhati-Hati Keberadaan Ayam Tiren

Oleh Tgl: July 25, 2013

Sampai saat ini kita belum menemukan ayam tiren, Kita berharapnya tidak akan ada

Nopi Yeni

BENGKULU – “Jadi istilah ayam tiren itu adalah ayam yang dipotong kemarin,” Ungkap Nopi Yeni Kepala Bidang kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Dinas Peternakan Kota Bengkulu saat menjelaskan sebutan untuk daging ayam yang akrab dikenal daging tiren ini.

Yeni yang dijumpai jurnalis saat sidak daging sapi di Pasar Tradisional Modern mengungkapkan bahwa Tiren atau singkatan dari “mati kemaren” ini harus diwasapadai oleh masyarakat Kota Bengkulu, apalagi disaat-saat Ramadhan permintaan akan daging ayam jelas meningkat tajam.

“Masyarakat harus mewaspadai keberadaan daging tersebut,” Ungkapnya.

jelas selain merugikan konsumen, keberadaan daging ayam tiren sangat merugikan Pedagang. Biasanya dikebanyakan tempat yang ada daging tirennya modus pedagang yakni daging yang ditandai dengan warna kulit yang memucat serta berbau tidak segar ini diakali pedagang dengan memberikan pewarna kuning untuk mengelabui pembeli dan Proses degradasi sering kali diakali dengan memberikan formalin untuk mengawetkan daging sehingga seolah-olah daging terlihat menjadi baru.

Namun beruntungnya, Diungkapkan Yeni bahwa hingga saat in Dinas Peternakan Kota Bengkulu belum pernah menemukan daging yang kualitasnya rendah ini didagangkan oelh pedagang ayam yang ada di pasar-pasar se Kota Bengkulu.

“Sampai saat ini kita belum menemukan ayam tiren, Kita berharapnya tidak akan ada,” Tukasnya.

Soal ayam tiren, Nopi memaparkan konsumen pada sat membeli harus perhatian terhadap daging ayam yang akan dibeli jangan sampau terbelih daging tersebut.

“Hati-hati dalam membeli dan juga dari ciri-cirinya secara fisik bisa kita lihat, seperti dari warna yang tidak segar,” tambah Nopi.

dilain tempat, Nita (20th) mengungkapkan jika benar ada daging tiren di pasaran dirinya akan kapok beli daging, dan mencari alternative lain.

“Ya kalau memang ada, jangan makan ayam dulu, beli langsung aja yang hidup motong sendiri dari pada bermasalah dengan kesehatan, atau diganti dengan barang subtitusinya dulu kayak ikan,” Demikian Nita mahasiswa Unib ini kepada wartawan(Cy*)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *