Hearing Dengan Pemprov, Walhi Minta Atasi Kerusakan Lingkungan

Oleh Tgl: July 15, 2013

BENGKULU, (Bengkulu Online)- Prihatin akan parahnya kerusakan di Pulau Tikus dan Sungai Bengkulu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Bengkulu, Senin (15/7) mengelar hearing atau berdialog dengan Gubernur meminta Pemerintah Provinsi Bengkulu segera mengatasi kerusakan lingkungan.

Walhi yang dipertemukan dengan Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah, Kepala Bappeda Edy Waluyo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Renaldi dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Iskandar melalui Ketua Divisi Penguatan Jaringan dan Organisasi Walhi Bengkulu, Fery Vandalis mengungkapkan penyebab utama kerusakan ekosistem Pulau Tikus dan Sungai Bengkulu tidak lepas dari aktivitas bongkar muat batubara di sekitar perairan tersebut.

“Kerusakan Pulau Tikus dan Pencemaran Sungai di Bengkulu disebabkan oleh aktivitas sektor batubara yang tidak dikendalikan, dan mengakibatkan kerusakan pada ekosistem tersebut,” Ungkapnya di Kantor Gubernur.

Feri membeberkan, dari data Rafflesia Bengkulu Diving Club (RBDC) bahwa 30 persen terumbu karang di Pulau Tikus rusak akibat aktivitas bongkar muat kapal pengangkut batubara dan parahnya lagi Dari 30 persen terumbu karang yang mengalami kerusakan, 95 persen diantaranya sudah tergolong mati sehingga sangat mengganggu ekosistem laut di sekitar Pulau Tikus.

“Kerusakan terumbu karang dilaut mengakibatkan sumber rantai makanan juga hilang. Akibatnya, selain nelayan kian sulit menangkap ikan, udang atau biota laut lainnya, pertumbuhan dari biota tersebut juga lambat,”Ungkpnya.

Soal truk pengakut batubara, Feri menjelaskan Meski izin bongkar muat sudah dicabut tapi kerusakan yang ditimbulkan hingga saat ini dampaknya masih terlihat di lapangan, dan untuk kembali memulihkannya memerlukan waktu yang panjang.

Sementara itu Lima perusahaan yang bergerak di sektor tambang batubara yakni PT Danau Mas Hitam, PT Inti Bara Perdana, PT Bukit Sunur, PT Emerat Treden Agency (ETA) dan PT Bio Energi serta dua perusahaan pabrik pengolah karet yang diduga mencemari air Sungai Bengkulu itu adalah kontribusi dari PT Bukit Angkasa Makmur dan PT Batang Hari, disampaikan Feri memberikan kontribusi terbesar terhadap kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu.

Dari Dialog tersebut, Gubernur menyiapkan upaya konkret pemerintah daerah untuk melindungi Pulau Tikus yakni dengan melakukan penghentian izin bongkar muat batubara di perairan Pulau Tikus merehabilitasi terumbu karang Pulau Tikus.

“Akan kita akomodir, Ke depan pemeprov berupaya melindungi Pulau Tikus dan Merehabilitasi kerusakan terumbu karang tersbeut, serta tentunya Kita berkomitmen menyelamatkan Pulau Tikus mencbut izin bongkar,” Ujarnya kepada awak media.

Soal kerusakan disepanjang aliran Sungai Bengkulu, Gubernur akan melakukan pengawasan dan bila diperlukan akan bertindak tegas dengan mencabut izin pendirian perusahaan.(Cy*)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *