15 Tahun Reformasi Indonesia, SBY Persembahkan 5 Pikirannya

Oleh Tgl: July 16, 2013

Ini baru pertama kali saya sampaikan, berangkat dari apa yang saya rasakan dan alami, sekaligus sebagai pertanggungjawaban saya kepada rakyat Indonesia dan sejarah

Susilo Bambang Yudhoyono

Jakarta,(Bengkulu Online)- Tahun ini genap 15 tahun reformasi Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan lima pikiran reflektifnya terkait reformasi. Pikiran-pikiran tersebut disampaikan pada acara silaturahmi dan buka puasa bersama pimpinan lembaga pers, pemimpin redaksi, serta wartawan Istana, di Istana Negara, Selasa (17/7) petang.

“Ini baru pertama kali saya sampaikan, berangkat dari apa yang saya rasakan dan alami, sekaligus sebagai pertanggungjawaban saya kepada rakyat Indonesia dan sejarah,” kata Presiden SBY.

Dikutip dari website presiden RI, Kelima pertanyaan kritis tersebut adalah, pertama, soal sistem ketatanegaraan dan distribusi kekuasaan. Kedua, kesinambungan demokrasi, stabilitas, dan pembangunan. Ketiga, hubungan antara negara, pemerintah, dan masyarakat. Keempat, perjalanan bangsa menuju negara maju. Kelima, tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa.

Mengenai pemikiran pertama, SBY melontarkan pertanyaan apakah check and balances diantara lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif sudah berjalan baik? Pertanyaan lanjutannya adalah, sistem pemerintahan apa yang kita pilih: presidensial atau semi-parlementer? Apakah distribusi kekuasaan antara pusan dan daerah sudah tepat?

“Pertanyaan reflektif pertama ini sangat penting dan harus kita jawab,” ujar Presiden SBY. Jika mengacu pada UUD 1945, maka sistem yang kita pilih adalah presidensial.

Kedua, berkaitan dengan demokrasi, stabilitas, dan pembangunan. Sebelum reformasi 1998, kita memiliki sistem otoritarian, ada tangan kekuasaan yang kuat. Apakah kita sekarang membutuhkan itu?

“Kita justru harus mengandalkan penegakkan hukum yang yang efektif dan institusi penegak hukum yang kuat. Maknanya, kalau ada penegak hukum menegakkan hukum dan polisi menertibakan, jangan dianggap tindakan represif,” Presiden mengingatkan.

Demokrasi, stabilitas, dan pembangunan sama pentingnya. “Itu bukan sesuatu yang ilusif, bisa kita jalankan sambil melakukan perubahan di sana-sini,” SBY menambahkan.

Refleksi ketiga adalah hubungan negara, pemerintah, dan masyarakat. SBY melihat sebagian dari masyarakat Indonesia masih berpandangan presiden dan pemerintahlah harus bertindak dan mengatasi segalanya. Padahal, lanjut SBY, itu hanya terjadi pada sistem otoritarian.

Perjalanan Indonesia menuju negara maju adalah bahan refleksi keempat Presiden. Untuk menjadi negara maju, Indonesia harus berbuat, terus membangun di berbagai sektor. Jangan pernah pesimistis dan mengerdilkan diri sendiri. “Harus memiliki kepercayaan diri dan semangat harus bisa,” Presiden SBY menegaskan.

Terakhir, refleksi Presiden adalah mengenai responsibility sharing. Semua komponen bangsa turut bertanggung jawab, termasuk pers dan media. Presiden berharap pers ikut meluruskan mindset dan paradigma yang masih keliru dari sistem otoritarian menuju demokrasi. “Pers adalah agen untuk membangun karakter bangsa,” ujar SBY.

Hadir pula dalam acara ini Wapres Boediono dan sejumlah menteri. Tausyiah Ramadan disampaikan tokoh pendidikan Arief Rahman





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *