3 Kabupaten Kosong Perempuan, KPI Kecam KPU Provinsi

Oleh Tgl: June 23, 2013
KPI

BENGKULU,JB – Sekretaris Jaringan Perempuan Peduli Bengkulu (JPPB) dan Koalisi Pepempuan Indonesia (KPI) Provinsi Bengkulu, Irna Riza Yuliastuty, S.Sos menyesalkan dan mengecam keras tindakan KPU provinsi Bengkulu yang tidak mengakomodir keterwakilan perempuan di 3 Kabupaten di Provinsi Bengkulu.

“Kami sangat menyesalkan dan mengecam keras tindakan kelima Komisioner KPU Provinsi Bengkulu yang tidak mengakomodir keterwakilan perempuan di tiga kabupaten yakni Seluma, Kepahiang, Rejang Lebong, pernyataan tersebut sungguh menyakitkan, kammi-kami yang berjuang menegaskan hadirnya perempuan di keanggotaan KPU adalah sebuah tragedi,” Ujarnya kepada rekan jurnalis yang dihubung melalui handphone, Minggu (23/6) pukul 20.23 wib.

Menurut Irna padahal jelas-jelas sudah diakomodir dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD sudah memberi peluang dan kesempatan yang memadai bagi bakal calon anggota legislatif perempuan untuk turut berkecimpung dalam politik praktis.

“Kuota 30 persen keterwakilan perempuan yang diatur dalam UU itu dinilai berpihak pada upaya penguatan dan pemberdayaan perempuan, ini untuk parlemen,” katanya.

Walaupun memang mengenai keterwakilan perempuan dalam Komisioner tidak atur dengan jelas namun selayaknya KPU provinsi Bengkulu tetap memperhatikan keterwakilan perempuan.

“Jangan sampai masyarakat menilai penetapan kelima komisioner ini ada indikasi dan tertentu dan kedekatan dengan golongan ini, atau memiliki pertalian darah dengan pejabat ini dan pejabat itu,”Jelasnya.

Oleh karena itu JPPB dan KPI provinsi Bengkulu akan memberikan sanksi moral kepada KPU provinsi Bengkulu yang sama sekali tidak memberikan akses kepada perempuan khususnya di tiga kabupaten tersebut.

“Alasan-alasan yang disampaikan oleh juru bicara KPU provinsi Bengkulu Zainan Sagiman, SH tersebut sangat menyakitkan kalangan perempuan, apalagi disampaikan karena perempuannya sendiri yang dinilai tidak berkualitas.Apasih kreteria yang menentukan layak atau tidak layak perempuan duduk di Komisioner tersebut, disegala tingkatan dan jika menurut KPU bahwa yang tidak berkualitas dan diragukan fakta integrasinyaterutama perempuan saya akan menanyakan sejauh mana fakta integritas para anggota KPU yang dipilih?, apakah mereka yakin bahwa tidak ada kepentingan satu golongan?, jadi alasan tidak berkualitas dan diragukan keindependenan perempuan itu sangat menyakitkan bagi kaum perempuan mereka,” sasalnya.

Jika dilihat nama-nama yang ditetapkan oleh KPU tersebut masyarakat dan JPPB dan KPI memiliki penilaian tersendiri, misalnya mengenai hubungan atau pertalian darah, lalu dari golongan atau organisasi tertentu.

“Kami menilai penetapan kelima komisioner tersebut sarat dengan berbagi interik tertentu,” katanya sembari mengatakan bisa saja perempuan di tiga Kabupaten tersebut bersepakat untuk memboikot pemilu.

Selain itu JPPB dan KPI serta kaum perempuan akan memberikan sanksi moral kepada KPU provinsi ini dimana telah lalai mengakomodir keterwakilan perempuan di 3 Kabupaten.

“Kami akan terus pantau dan akan berikan sanksi moral kepada KPU provinsi ini, apakah kelima anggota Komisioner di 3 Kabupaten tersebut memang benar-benar berkapasitas untuk menjadi penyelenggara pemilu,” jelasnya sembari menyebutkan Kota Bengkulu, Bengkulu Tengah, Mukomuko, Bengkulu Utara, Lebong, masing-masing 1 Orang keterwakilan perempuan, sedangkan di Seluma, Kepahiang, Rejang Lebong sama sekali tidak ada keterwakilan.

“Perjuangan kita tidak akan berhenti untuk keterwakilan perempuan disemua lini, upaya kita sudah maksimal hingga bertukar pikiran dan menyampaikan komitment affirmasi ke mereka jika hasilnya membuktikan ketidak adanya niat baik KPU provinsi, kami mengerti hukum dan mekanisme tetapi bagi orang yang tidak punya kepedulian, mekanisme dan peraturan bisa diputar balikkan, ya keputusan itu adalah pembuktian kualitas mereka yang sekarang diragukan perempuan.”Ungkapnya lagi ketika ditanya langkah selanjutnya yang akan diambil oleh KPI. (Cy*)





Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *